Stay Connected
Need Help? Call +62-21-8356113
Extended Warranty
Produksi Rasa ‘Indie’ Ala Ari Renaldi

Pergerakan indie atau independent yang memiliki konotasi erat dengan ‘Do it Yourself’ tentu bukan hanya mengarah pada skema distribusi musik dalam label rekaman. Mindset atau cara berpikir dalam konteks ‘Do it Yourself’ juga memiliki pengaruh terhadap metode produksi sebuah lagu/album dimana artis lebih memiliki kebebasan dalam berkarya tanpa terkungkung pada pakem-pakem industri. Kesan inilah yang sangat terasa ketika penulis bertemu Ari Renaldi, seorang Producer/Engineer yang memulai karirnya di dunia musik sebagai session drummer bagi Project Pop dan Rio Febrian.

Kecintaan Ari pada dunia audio pun tumbuh dimana ia besar dalam lingkungan pecinta musik dan audio (orang tua Ari pernah memiliki usaha rental sound system dan studio ternama di Bandung) sampai pada akhirnya memutuskan untuk menghidupkan kembali Studio Aru yang dulu pernah dijalankan oleh keluarganya. Hingga kini, sejumlah artis dan band telah ia produksi di antaranya Mocca, Tulus, dan Raisa.

Analogi ‘time travelling’ dan ‘mindset’

Sebaga produser musik, Ari mengakui pendekatannya lebih banyak dari sisi musikal dimana ia merasa suasana atau ‘ambience’ sebuah komposisi lebih penting dibanding faktor mikro seperti karakter sebuah instrument. “Tapi, bukan berarti ‘sound’ itu tidak penting”, tambahnya. Attitude dan tonalitas pemain pastinya juga berpengaruh pada suara yang dihasilkan.

Dalam hal produksi pun ia menyukai analogy ‘time travelling’ dimana konsep karakter suara dibentuk berdasarkan era yang menjadi acuan. Misalnya, ketika yang menjadi acuan adalah sound Motown pada era 60-an bisa saja ia merekam drum dengan satu microphone lalu diproses lagi melalui plug-ins emulasi yang memang menjadi favorit engineer yang selalu mixing ‘in the box’ ini. “Saya sampai pada titik dimana saya merasa tidak ada yang namanya salah atau benar dalam rekaman, tapi lebih kepada hasil seperti apa yang kita harapkan”, lanjut Ari

Soal audio gears, “saya selalu berusaha untuk tidak melihat merek tapi lebih kepada fungsi dari alat itu.” Kata Ari. Misalnya microphone, ya mau apa pun mereknya yang lebih penting untuk saya jenisnya itu apa, baik itu condenser atau dynamic masing-masing bisa difungsikan sesuai kebutuhan. Ia pun lalu menambahkan, “yang penting kalau buat saya adalah penyampaian musiknya itu sendiri daripada alat apa yang digunakan karena balik lagi ke situasi industri musik yang belum memungkinkan semua artis untuk memproduksi dengan budget besar seperti di luar negeri”.

Tetapi, bukan berarti Ari tidak peduli dengan kualitas suara. Ia pun berkata, “di satu sisi saya tetap berusaha untuk menghadirkan sound sebaik mungkin” seraya menunjukkan koleksi outboards di rak-nya.

Beralih kepada perkembangan scene musik, producer yang pernah mengikuti workshop ‘Mix with The Masters’ di Perancis ini berkata “perkembangan scene musik harusnya sejalan dengan derasnya arus informasi jadi ya diharapkan skill atau kemampuan musisi bisa lebih banyak berkembang serta mindset atau cara berpikir yang lebih terbuka dalam melakukan suatu produksi”. Menariknya adalah sekarang ini tidak terlalu jauh perbedaan kualitas produksi major dan indie dikarenakan faktor budget produksi. Ia lalu menambahkan, “indie itu bukan berarti tidak memperhatikan skill dan kualitas, jadi jangan menjadi indie karena tidak layak menjadi major’. Tukas producer yang banyak terinspirasi dari biografi itu sambil menutup obrolan kami. ryr