API Delivers the 10,000th 512C Mic Pre

Jessup, Maryland – June 2010: A direct descendent of Saul Walker's original 1967 design, the API 512C modular mic preamp embodies the legendary API sound and has been a mainstay of engineers for over three decades.
Coming on the heels of API's 40th anniversary and the delivery of the 100th 1608 console, the company recently celebrated another milestone: delivery of the 10,000th 512C.
To mark the event, API president Larry Droppa dropped a note inside the 10,000th box. Toronto-based guitarist and composer Brian Legere received the unit, the note, and – compliments of API – API 512C number 10,001!

Legere has been working in the Toronto-area for nearly thirty years – almost as long as the API 512C has been in production.
An accomplished guitar player, Legere has worked in the studio with famed producer Daniel Lanois (U2, Peter Gabriel, Bob Dylan); both men grew up in Hamilton Ontario.
Legere's compositions and guitar work can be heard on the Speed Channel's "Dream Car Garage" and "Chop Cut Rebuild."

Legere purchased an API 500-6B Lunchbox™ from Canadian retailer Long & McQuade, along with the first two modular units to occupy it: API 512C preamps numbered 10,000 and 10,002 – a nearly matched set.
Little did he know that API was holding number 10,001 to give away as part of the celebration. "Now I have three 512Cs with consecutive serial numbers," Legere laughed.

Asked why he had purchased the pair of 512Cs in the first place, Legere was reflective. "I've been working in the studio for a long time, and I've come to appreciate the virtues of certain gear.
The analog warmth of API's discrete circuitry is something special. Now that I'm expanding the studio, it was easy to select the best equipment that I had used in the past.
Of course, the API mic pres fall in that class. In my view, having great mics and great mic pres up front make all the difference to an otherwise digital recording.
You can never lose your money buying a great mic or a great pre," he added.

Part of the reason Legere went with the very portable API Lunchbox was so that he could bring gear into a local high school, where he is developing a recording class.
"In my role as an educator, I feel it is important to expose students to truly professional-grade equipment," he said.
"The Lunchbox makes it easy to share equipment from my home studio and will greatly enhance the course."

"It was twenty years ago when I first designed the music room." said Legere.
"Given that high-end equipment was gradually becoming more affordable, I knew I would eventually be able to put a full-blown studio together.
So I built an excellent sounding room with adjoining isolation booths. Of course, I've had something to record with in there this whole time, but now I'm ready to expand and invite other musicians in to record.
I have a typical Pro Tools rig and now I'm collecting the mics and outboard gear, such as the API pres, that will elevate its sound."

top

AL SCHMITT

SAXOPHONE bernyanyi dengan MOJAVE AUDIO

Hollywood, CA
Saat bebicara tentang microphones, orang sekelas Al Schmitt, pemenang Grammy Award untuk kategory Producer/Engineer, tentunya mereka bisa mendapatkan microphone dengan type & model apapun yang mereka inginkan.
Jadi, jika Schmitt berkata dia ingin sekali menggunakan suatu jenis microphone untuk suatu aplikasi yang spesifik, kalian bisa sepenuhnya yakin bahwa ada alasan kuat dibalik keputusannya itu, dan saat melakukan rekaman saxophone, microphone pilihan dia jatuh pada MA-200 Vacuum Tube Condenser microphone dari Mojave Audio.

Sebagai pemegang 17 kali Grammy Award engineer berturut-turut, dan juga 2 latin Grammys, Schmitts memiliki segudang hits recordings termasuk beberapa album yang sangat terkenal dalam sejarah, seperti Hendry Mancini "Hatari, Geroge benson "Breezin", Stelly Dan "Aja", dan Natalie Cole "Unforgettable", dan banyak lainnya.
Dengan beberapa projek barunya, sperti Barbara Streisand "Love is the answer" dan Diana Krall "Quiet Nights" , menjadikan discography Schimtt sangat memukau banyak orang.

Schimtt baru saja merekam beberapa track baru untuk project album ke-4 dari vokalis Jepang Hiromi Kanda, dan juga vokalis russia Oleg Frish.
Kedua projek tersebut berbahasa inggris, dirilis ke seluruh dunia, dan diproduksi di studio yang ia selalu gunakan sejak lama - Capitol Studio.
Untuk Hiromi Kanda session, dimana Schimtt baru saja menyelesaikan recording & mixing di Capitol Studio A, B, dan C suites, dia menggunakan Mojave Audio MA-200 microphones untuk empat saxophone.
Untuk Oleg Frish session, dengan aransemen big band yang di orkestrasi oleh, yang tak lain, Pat Williams, Schmitt menggunakan full 5 microphones dari MA-200 untuk saxophone.

Schmitt berdiskusi tentang bagaimana dia bisa memilih Mojave Audio MA-200 untuk saxophone. "Asisten saya, Steve Genewick, dan saya mencoba beberapa microphones untuk audisi pada saxophone dan kita mencintai apa yang kita dengar dengan MA-200" Schmitt menjelaskan.
"Tidak hanya kami menyukai suaranya, namun pemain saxophone itu sendiri menyukai suara yang mereka dengar. Semua orang terpukau oleh suara saxophone yang kita dapatkan dengan mic tersebut."

Dengan MA-200 mengarah kebawah, and diposisikan kira-kira 3 kaki (90cm) dari jari pemain saxophone, Schmitt menemukan bahwa dia bisa mendapatkan kombinasi ideal dari suara corong dan juga kharakter suara "clicking" dari jari pemain.
"Pada suatu track, kita melakukan overdub solo saxophone dan konduktor pada sesi tersebut, yang tak lain adalah pemain saxophone itu sendiri berkata, 'Kamu mendapatkan sound saxophone yang luar biasa.' Saya hanya meresponnya dengan berkata 'Thank you. Sebagian suara tersebut dari pemain & selebihnya itu dari microphone.' Steve dan saya mendapatkan pujian untuk microphone ini dari semua orang yang terlibat dalam sesi tersebut dan itu, menurut saya, adalah pujian yang sangat berarti."

"Saxophone adalah instrument musik yang sangat keras dan MA-200 mampu menampung SPL (sound pressure level) tersebut dengan sangat baik, tanpa ada masalah apapun."
Schmitt melanjutkan. "Suara sangat bagus dari frequency atas sampai bawah. Kami tidak mendapatkan suara 'honking' apapun yang biasa terjadi dari penambahan frequency di daerah midrange microphone. Mojave MA-200 sangat bagus & flat di seluruh frequency range."

Sebelum dia kembali pada kesibukannya di hari itu, Schmitt sempat memberikan komentarnya terakhirnya pada MA-200 microphone ini.
"Semua hasil yang diperoleh pada kedua projek terakhir ini didapatkan secara luar biasa dengan MA-200," kata Schmitt.
"Saya sangat bersemangat pada saat menggunakan mereka pertama kali, lalu pada saat saya menggunakannya pada kelima saxophone pada big band tersebut, hasilnya bahkan lebih memukau.
Steve dan saya betul-betul tertantang dengan hasil yang kita capai. Saya memiliki satu big band projek lagi yang akan datang di bulan pertama agustus, dan saya sudah tidak sabar lagi untuk menggunakan mic tersebut."

About the Mojave Audio MA-200 Vacuum Tube Condenser Microphone

The MA-200 is a large diaphragm, vacuum tube condenser microphone with a fixed cardioid pattern. Born to a lineage of fine microphone designs by David Royer, the MA-200 gives warm, full-bodied reproductions of vocals and instruments, with none of the shrillness and high frequency distortion artifacts that are often encountered with modern condenser microphones.

top

Rupert neve Portico II

Ahkir - ahkir ini di dunia audio mulai banyak bermunculan channel strip, karena terkadang kebutuhan artis / engineer tidak hanya sebatas sebuah Preamp / DI saja di dalam sebuah proses produksi atau situasi live .

Sepertinya dari hal itulah yg di lihat oleh Portico sehingga membuat Portico II, sebuah 2U Channel Strip dengan Mic Pre, Compressor, EQ, de-esser dan Texture "silk mode". hadir di tengah dunia produksi sekarang.

setelah saya mendegarkan hasil rec dengan portico II pada suara pria dengan microphone neuman u87 di set pada 30 db input , hasil yg saya dapatkan adalah suara neve yg saya rindukan :) , dengan headroom yg lebih besar daripada headroom portico seri pertama, membuat preamp strip ini mempunyai warna yg cukup lebar dan hangat ala neve sound.

pada compressor section, variable yg cukup lengkap dari mulai 1:1 s/d 40:1 ratio controls dan threshold dari -30dBu to +20dBu, dengan variable attack dari 20 s/d 75ms (.1 ms in fast mode), dan settingan release 100ms to 2.5s, dapat di naikan gain nya dari 0 s/d 20dB dengan kemampuan streo link. Ada juga feature FF dan FB pada compressor menambah kemampuan channel strip ini lebih lengkap dengan kemampuan merubah deteksi VCA dari FF (foward feed) yg menambah presisi pada settingan attack dan release dan FB (feed back) yang smooth dan lebih musical respone.

section eq juga cukup lengkap dengan 4 band dan gain potentio pada setiap band nya, . Parameter LMF dan HMF bands memiliki joint engage switch, yg meng-adjust +/- 12dB level, dan juga variable “Q” dari 0.7 s/d 5 pada variable frequency ranges dari 70, 1.4KHz,700Hz sampai dengan 14KHz. Di sisi lain HMF dapat juga di gunakan sebagai De-esser circuit

pada ahkir strip terdapat section tertulis texture yg di design untuk menambahkan jumlah harmonic distortion dari resource yg ada. bahkan pada section ini pun kita di berikan pilhan dengan hadirnya red and blue silk mode. pada blue mode, dapat kita dengar dengan jelas perbedaan pada freq atas yg lebih 'rich' secara adanya penambahan pada harmonic distorsi di high freq dan sebaliknya pada red mode yg dapat kita dengar perbedaan nya pada freq bawah yg lebih lebar dan penuh.

menurut pendapat pribadi saya sendiri, portico II merupakan channel strip terlengkap yg pernah saya lihat dan coba, dengan feature2 yg membuat preamp ini dapat di gunakan sebagai all around preamp dan DI untuk recording dari resource suara yg berbeda2. "one for all"

Cheers F. Rendy Retanubun

top

Audio Post - EGG Production

Tahukah bahwa dalam dunia periklanan, tv atau film, peran audio sangatlah penting. Walaupun terkadang menjadi process terahkir dalam sebuah system produksi sehingga sering pekerja – pekerja di dalam nya berbenturan dengan dead line dan masalah – masalah idealisme antara producer, advertising agency, musisi, talent2, dan juga engineer.

Nah!, bagaimana cara menyelesaikan masalah2 tersebut?. Salah satu cara adalah dengan belajar menjadi mediator dan negotiator yang bisa berkomunikas dengan sangat baik dan benar2 memahami setiap element2 yang ada di dalam industry ini. Bisa juga melakukan briefing dan membuat time line kerja yang jelas sebelum produksi di mulai dengan pihak2 yang akan terlibat dan juga pihak2 yang menjadi decision maker.

Di sisi lain technology juga menunjang kecepatan dan qualitas kita dalam bekerja, sehingga kemampuan kita memaksimalkan alat2 produksi juga merupakan kunci yang penting dalam industry ini.

Beberapa hal di atas lah yang di lakukan oleh Egg audio production, salah satu peraih award dalam audio post production category di ajang Citra Pariwara 2007 dan 2008. Eggy sebagai owner dari Egg audio production sangat lah memperhatikan kualitas dan kecepatan bekerja dalam memenuhi dan menjawab semua kebutuhan yang ada dari setiap element2. Hasil yang dapat kita lihat dari Egg audio post pro adalah iklan Gudang Garam dalam dirgahayu Indonesia tahun 2006 yang juga mendapatkan Golden Award dengan judul “rumahku Indonesiaku”

Dalam beberapa kali berkunjung ke Egg audio post production yang sangat sibuk, saya berhasil mendapatkan beberapa hal yang menarik yang saya akan coba share dalam tulisan ini. Pertama bila saya bandingkan dengan beberapa audio post pro lain nya, egg audio production bisa di bilang sangat full equipment production, dari mulai alat2 instrument dan recording equipment sampai lokasi dan tempat yang sangat nyaman untuk para client / tamu. Selain itu bisa di bilang di Egg audio production mengunakan alat2 audio processing yang sangat baik salah satunya adalah preamp yang berkarakter hangat dan tebal yang di gunakan disana untuk recording kick dan snare, sehingga memberi karakter germanium dari Chandler yang sangat jelas.

Dalam dunia audio post production sangatlah di tuntut kemampuan untuk dapat bekerja dengan cepat dan memahami bahasa / istilah2 client yang cukup berbeda dengan kita yang mungkin memahami/ mengunakan bahasa2 technical di audio, sehingga terkadang kita harus dapat memberikan penjelasan yang simple / sederhana dan menunjukan hasil yang significant kepada client. Dengan mengunakan summing dalam processing audio kita dapat bekerja dengan lebih cepat dalam menentukan dimensi dan clarity / kejelasan dari setiap audio track yang kita punya sehingga tidak terasa menumpuk pada setiap tracknya dan juga memberikan hasil yg significant dalam membagi / balancing output yang dapat di dengarkan oleh client. Process summing bisa kita dapatkan dari analog mixer yang baik atau bisa juga lebih praktis dengan mengunakan 2buss dari Dangerous dengan ukuran 1 U yang sangat simple. Hasil dari summing itu tentulah harus di mediakan dengan speaker monitor yg translate / flat dan sangat dynamic yang bisa kita rasakan di Speaker Focal Twin 6 be di control room Egg audio post production. Sudah hampir lebih dari 8 tahun Egg audio production terjun ke dalam industry iklan di Indonesia dan telah menelurkan hampir ratusan hasil yang dapat kita lihat. Pekembangan technology audio di akui oleh Ronald , in house engineer di Eggy audio pro sebagai tahap / zaman2 yg berbeda di dalam industri ini tentunya semakin baik dengan tetap berpatokan kepada suara yang “ Clear, Rich dan Loud”.

Bagi kita yang mau mencoba terjun ke dunia audio post production, Eggy mempunyai pesan yg cukup menarik “kita harus dapat menjadi manusia setengah dewa, yang dapat membagi creativity kita 50% untuk sendiri dan 50% untuk client”. Sekali lagi komunikasi skill juga menjadi salah satu hal yang wajib untuk di miliki kita dalam menjembatani berbagai idealisme2 yang ada, tentunya dengan menghargai learning process yang ada.

cheers F. Rendy Retanubun

top