Stay Connected
Need Help? Call +62-21-8356113
Extended Warranty
Man on Mission: Joseph Manurung

Salah satu ‘SUHU’ audio engineer Indonesia bercerita seputar produksi album NOAH, filosofi rekaman, dan pastinya audio gears.

Joseph Manurung merupakan seorang audio engineer yang memiliki jam terbang cukup tinggi dalam belantika musik Indonesia. Baik itu dalam live sound, recording, hingga terlibat sebagai produser dalam produksi sebuah album. Kliennya pun bisa dibilang lintas genre mulai rock, metal, hingga pop. Dalam produksi album NOAH terbaru yang diberi judul ‘SECOND CHANCE’ Joseph Manurung terlibat sebagai recording serta mixing engineer. Ia juga bekerja sama dengan produser kelas dunia Steve Lillywhite (U2 Rolling Stones, 30 Seconds to Mars) dalam album yang rencananya rilis pada akhir tahun 2014.

Dengan jumlah lagu yang mencapai total sebanyak 40 lagu (37 lagu lama, 3 lagu baru) membuat album NOAH yang berjudul ‘SECOND CHANCE’ ini patut mendapat sorotan. Dari segi produksi, ada beberapa hal yang menarik diantaranya proses untuk menghadirkan ‘sound’ yang sesuai dengan visi para personil NOAH serta keterlibatan Steve Lillywhite yang memang sengaja ‘diboyong’ ke Jakarta untuk langsung menangani produksi album ini.

Seperti yang diutarakan Joseph, hal yang pertama kali ia lakukan dalam produksi NOAH kali ini adalah mendengarkan kemauan dari band terhadap sound lalu ia coba kembangkan sejalan dengan komposisi lagu untuk mendapatkan keseimbangan frekuensi dalam hal musikalitas. Seperti yang diutarakan Joseph, David sebagai keyboardist NOAH banyak membuat bagian-bagian yang mengisi celah-celah frekuensi sehingga komposisi lagu menjadi lebih full-range dalam hal frekuensi. “Jadi misi gue ya menjadikan NOAH seperti harapan mereka secara soundwise”.

Selain lewat komposisi, pemilihan ruangan dalam rekaman album ini juga menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan ‘sound’ yang dicari. Ketika ditanya tentang kabar bahwa rekaman drum album ini dikerjakan di koridor (hallway) Musica Studios dan bukannya di dalam Live room, Joseph menjelaskan awalnya mereka memang mencari ruangan di studio Musica yang karakternya paling ‘Live’. Akhirnya Steve memutuskan untuk menempatkan drum-nya sekalian di koridor setelah mendengarkan rekaman drum gue dengan room mic yang diposisikan di koridor,” lanjut Joseph Manurung.

Bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan produser dunia mungkin bisa dibilang ‘mimpi’ para engineer. Joseph Manurung pun sangat berkesan bisa bekerja sama dengan Steve Lillywhite dan ia merasa kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Joseph Manurung lalu menambahkan, “ yang keren dari Steve (Lillywhite) itu adalah dia bisa mempertemukan apa maunya dia dengan anak-anak (band), sampai-sampai dia punya cara untuk menjalankan visinya tanpa ditolak anak-anak.”

Kalau dari sisi teknis, Steve memang tidak banyak komentar, hanya sebatas supervisor atau quality control saja. Tapi memang bisa terlihat dia menyukai teknologi digital, karena dia benar-benar mendorong gue dalam hal editing di Pro Tools untuk membangun ‘vibe’ lagu yang dia produksi, ujar Joseph Manurung.

Mengenai filosofi dalam memproduksi album, Joseph memilih pendekatan dalam hal teknis ketimbang musikalitas (aransemen,dll). Ia sangat menikmati bekerja sama dengan band karena menurutnya band lebih memiliki ide-ide dan dapat berinteraksi secara musikal yang kemudian ia terjemahkan lewat teknikalitas rekaman dan mixing.

Seperti yang diutarakannya, “Gue dari dulu itu kalau rekaman ya cari dan dapatin sound-nya dulu, pokoknya harus beres dan sesuai fase-nya jadi tidak ‘fix in the mix’.” Alasannya adalah Joseph ingin mengajak musisi untuk bisa melihat pengaruh aransemen dalam hal pembagian dan keseimbangan frekuensi sehingga tidak asal ‘numpuk’.

Soal audio gears, Joseph Manurung termasuk engineer yang suka bekerja dengan outboards ketika mixing, baik itu efek, processor, maupun summing mixer. Soal summing mixer, ia pun menambahkan, “saya lebih suka pakai summing karena ada saturasi yang dihasilkan dari interaksi komponen sehingga suaranya lebih enak” ujar pecinta Empirical Labs Distressor dan ribbon mic ini.

Khusus untuk ribbon mic, Joseph memang menyukai tipe mic satu ini terutama untuk rekaman gitar karena menurutnya sound gitar langsung ‘jadi’.

Ada tips dan saran dari Joseph Manurung untuk para musisi. Ketika rekaman, jangan terlalu berlebihan dalam mencari ‘sound’ dan serahkan masalah teknis ke engineer. Karena dalam tahapan mixing itu pada akhirnya sisi ‘seni’ atau ‘art’ yang akan lebih menonjol dibandingkan dengan jumlah mic yang dipakai ketika rekaman.

Dan untuk menutup obrolan kali ini, Joseph Manurung juga berpesan kepada para engineer yang baru mulai untuk selalu dekat dengan orang-orang yang bisa diserap ilmunya dan masuk dalam lingkungan yang bisa memberikan ‘network’ serta pembelajaran yang baik.