Stay Connected
Need Help? Call +62-21-8356113
Extended Warranty
Di Balik Produksi Scoring Haji Backpacker

Bercerita tentang seorang pemuda bernama Mada yang memberontak kepada Tuhan setelah kematian ibunya, dan disusul dengan patah hati yang akhirnya membuat ia memutuskan untuk menjalani hidup bebas sebagai ‘petualang ransel’ (backpacker). Begitulah kira-kira sinopsis dari film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini. Secara skala produksi, film ini cukup fenomenal dikarenakan pengambilan gambar yang berlokasi di 8 negara yakni Thailand, Vietnam, india, Nepal, Tibet, India, Iran, dan Saudi Arabia serta budget produksi yang lebih dari 12 Miliar Rupiah.

Tentu selain faktor visual yang ‘wah’, komposisi musik (scoring) di film ini juga menarik untuk didengar. Terlebih dengan cerita drama yang disuguhkan di film ini, scoring musik akan membuat emosi dari visual menjadi tersampaikan. Ini lah yang menjadi peran Indra Q Yudo dalam produksi film ini. Sebagai seorang musisi, composer, mixing/mastering engineer, Indra Q tentu memiliki sisi pandang yang cukup luas dalam memproduksi sebuah musik sehingga pendekatan produksi-nya menjadi hal yang menarik untuk disimak.

Proses Produksi

Dalam proses produksi scoring film Haji Backpacker, spotting session atau sesi menonton untuk menentukan titik mulai sebuah cinematic hits atau music (cue point) menjadi proses awal scoring film ini. Setelah menentukan cue point, barulah Indra Q memasukkan sample cinematic hits seperti gemuruh (rumble), low frequency drone dan sebagainya untuk membangun emosi dari referensi visual yang diterimanya.

Mengenai konsep musik, produser film ini (HB Naveen) memiliki gambaran cukup detail dimana guide music juga turut disertakan sebagai gambaran bagi Indra Q dalam membuat scoring film ini. Ada satu hal yang menarik ketika Indra Q memberi preview musik buatannya untuk salah satu adegan, sang produser cuma memberi komentar ‘gak dapet’. Menanggapi itu, yang dilakukan Indra Q adalah dengan tidak merubah musiknya tapi hanya menghilangkan komposisi bass/low frequency di musiknya. Ketika diperdengarkan kembali, sang produser pun langsung berujar ‘naaah, ini dia nih’ mengesankan emosi yang diinginkan tercapai.

“Kalau di (scoring) film, revisi itu bukan merombak, tetapi lebih menyesuaikan dengan emosi adegan” lanjut Indra Q. Hal lain yang ditekankan oleh Indra Q juga mengenai riset dimana hal itu menjadi bagian penting dari proses scoring. Menemukan suara instrument yang sesuai dengan emosi adegan sangat berpengaruh bagi musik film itu sendiri. Hal inilah yang membuat Indra Q memutuskan untuk mengkombinasikan sample, virtual dan live instruments dalam komposisi scoring yang dibuatnya.

Komposisi gambar yang cukup eksotis juga membuat pemilihan suara instrument di scoring film ini menjadi cukup etnik. Kehadiran suling, sitar, kendang, tabla, dan alat musik lainnya yang direkam secara organik tentu akan semakin menghantarkan emosi visual dari film ini. Indra Q pun lalu bercerita tentang satu scene dimana Dewi Sandra (Sofia) memutuskan hubungan dengan Abimana Aryasatya (Mada) di tepi danau Ana Sagar di Kota Ajmer, India. “Awalnya gue bingung sama adegan ini makanya gue coba diskusi sama Pak Naveen produsernya, terus dia nanya, sebenernya musik disini mewakili emosinya siapa? Ya gue jawab Sofia, terus dia bilang salaaah, emosinya Mada! lo bayangin rasanya diputusin cewek di tempat itu. Dalam hati gue mikir, wah pantesan…gue belum pernah diputusin cewek makanya ga dapet emosinya” ujar Indra Q sambil tertawa”. Akhirnya Indra pun coba meresapi visual dan merasakan emosi Mada sampai akhirnya jadilah scoring adegan itu yang cukup banyak membuyarkan air mata para penonton.

sumber: hot.detik.com

foto-foto: Indra Q

Selain dikerjakan di studio pribadi Indra Q yang bernama BatCave Studio, proses rekaman musik juga dilakukan di Starlight Studio yang terletak di Duren Sawit, Jakarta Timur. Sejumlah musisi pun terlibat dalam produksi ini di antaranya Irwan AZ dan Firas. Dalam hal mixing, tidak terlalu banyak hal yang dikerjakan dikarenakan ketika memilih sound instrument, Indra Q sudah mempertimbangkan frequency register sehingga masing-masing alat musik tidak bertabrakan secara frekuensi dan mengganggu dialog. “Akhirnya ya gue cuma banyak mainin level automation buat mainin dinamika, equalizer pun cuma filter buat lebih membatasi jangkauan frekuensi di tiap instrument, kompresi ga banyak dilakukan karena musik film butuh dinamika yang lebar” ujar Indra Q.

Hal lain di luar teknis audio tapi sangat berpengaruh di musik film menurut Indra Q adalah faktor micro tuning di instrument. Micro tuning yang merupakan standard tuning di luar konservatif kontemporer tuning notasi Barat (Western) banyak diaplikasikan di music etnik di antaranya musik Shruti (India) serta Gamelan (Indonesia). Falset atau tuning stidak standard inilah yang berpengaruh dalam mengawinkan emosi visual dengan suara instrument musik.

Sebelum mengakhiri obrolan, Indra Q pun sempat memberi trik komposisi musik yang biasanya ia terapkan dalam scoring film. Berikut ini triknya:

  • 1.Musik yang terlebih dulu mulai dan berhenti sebelum dialog akan memberikan penekanan lebih terhadap suatu dialog
  • 2.Musik di film komedi itu anti-klimaks
  • 3.Untuk menghadirkan emosi drama yang lebih, musik harus dibawa dengan notasi yang menyimpulkan komposisi tersebut daripada cuma ‘digantung’ di notasi tertentu