Stay Connected
Need Help? Call +62-21-5794-3860 / 61
Extended Warranty
Blog
Softube Console 1: Analog Workflow in Digital Realm

Peran Digital Audio Workstation (DAW) sebagai platform utama dalam audio production pastinya membawa banyak perubahan dalam workflow atau cara bekerja para musisi/engineer dalam proses produksi. Begitu pula halnya dengan proses mixing. Ketika kita kembali pada masa analog (pre-DAW), signal audio yang akan kita mix tentu tidak memiliki tampilan visual seperti layaknya pada DAW. Jadi, anda lebih menggunakan telinga tanpa adanya ‘visual distraction’ yang mungkin dapat memecah konsentrasi anda.

Selain itu, workflow analog yang mengharuskan engineer berinteraksi dengan knob outboards ataupun console fader tentu membuat proses mixing analog menjadi lebih ‘bernyawa’ dan menyenangkan. Sangat berbeda ketika dibandingkan dengan proses mixing digital yang hanya menggunakan mouse untuk mengatur parameter plug-ins ataupun DAW mixer. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran DAW controller ataupun plug-ins controller cukup membantu dalam menghadirkan ‘feel’ analog mixing. Tapi, ketika kita bicara soal ‘the real analog workflow’ dalam dunia digital audio, Softube Console 1 mungkin dapat menjadi solusi untuk anda.

Dengan menghadirkan emulasi dari Solid State Logic 4000 E console yang merupakan mixing console legendaris, anda dapat menghadirkan karakter analog dari console tersebut dalam system digital anda. Karena Softube tidak hanya mengemulasi karakter input dari console tersebut, melainkan juga processor yang terdiri dari EQ dan dynamics. Selain menggunakan console, dalam analog workflow pastinya juga terdapat outboards yang diaplikasikan sebagai ‘insert’ dalam memproses signal audio. Lewat plug-ins Softube yang bervariasi, karakter outboards seperti Tube-Tech, Summit Audio, ataupun Trident EQ dapat dengan mudah diaplikasikan melalui Softube Console 1.

Inovasi Softube tentu tidak hanya sampai disitu. Selain ‘hands-on control’ lewat penggunaan hardware unit, tampilan visual yang interaktif juga tersedia pada Softube Console 1. Hal ini akan membuat analog worklow anda menjadi lebih ‘modern’ dan efektif. Karena visual display dari Softube Console 1 akan menampilkan informasi detail tentang parameter plug-ins beserta meter bridge untuk setiap channel bank yang dipilih. Artinya, anda dapat melakukan mixing tanpa harus terpaku pada tampilan DAW dan merasakan analog workflow yang sesungguhnya dengan Softube Console 1. Selamat mencoba!

  • Softube merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi hardware dan software bagi kebutuhan industri audio. Berbasis di Swedia, perusahaan satu ini benar-benar mengembangkan teknologi emulation atau simulasi yang akurat dari hardware professional audio serta menciptakan audio plug-ins berkualitas dengan CPU load yang rendah. www.softube.com
  • Classic Compressor Series: UREI 1176

    Bicara soal compressor yang satu ini tentu kita tidak akan melewatkan sosok Bill Putnam Sr. Merupakan otak di balik Universal Audio, Studio Electronics, dan UREI (United Recording Electronic Industries). Bill Putnam Sr. banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan industri rekaman lewat hasil ciptaannya yang inovatif. Di antaranya dalam hal layout modern mixing console, termasuk channel strip processing dan konsep auxiliary (send) busses.

    Bill Putnam Sr.

    Dibuat pertama kali pada sekitar tahun 1967 (Revision A) oleh Bill Putnam Sr, UREI 1176 langsung menuai banyak respons karena desainnya yang cukup inovatif. Dari segi sirkuit, UREI 1176 merupakan ‘peak limiter’ pertama yang menggunakan solid-state (transistor) secara menyeluruh. Maka tidaklah mengherankan jika dynamics processor satu ini sering dikenal dengan sebutan F.E.T (Field Effect Transistor) compressor.

    UREI 1176LN Limiting Amplifier

    Mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa 1176 memiliki ‘kakak’ yang dinamakan Universal Audio 176. Diklaim banyak engineer dan musisi sebagai ‘the best compressor ever made’ karena tonalitas yang dihasilkan compressor tersebut. Tentu hal ini tidak terlepas dari sirkuit 176 yang menggunakan variable-mu tube gain reduction design. Artinya gain reduction dikontrol oleh variable-mu dual triode tube yang akan menekan dynamic range ketika input signal membesar. Seperti layaknya tube compressor, attack atau waktu yang dibutuhkan compressor untuk mulai memproses signal tentunya tidak dapat mendeteksi transient yang sangat cepat. Mungkin faktor inilah inilah yang membuat Bill Putnam Sr. mengembangkan desainnya dan menerapkan konsep solid state design. Penggunaan F.E.T pada UREI 1176 membuat attack menjadi lebih efektif dan 'karakter' pun tetap dihasilkan lewat trafo Cinemag (Reichenbach Engineering).

    Universal Audio 175/176

    Bicara soal tonalitas, faktor satu ini tentunya menjadi alasan mengapa 1176 sangat digemari musisi dan engineer. Ketika digunakan pada vokal, desain FET dari 1176 akan membuat tone menjadi lebih ‘bright’ dengan tambahan energi yang dihasilkan dari karakter kompresi sehingga vokal akan tetap berada di depan ketika mixing. Lain halnya ketika digunakan pada drums. Kemampuan attack yang cepat dari 1176 menjadikan compressor satu ini sangat efektif dalam memproses drum tracks. Dan ketika semua tombol ratio ditekan (all button in/BRIT mode), compressor akan menghasilkan karakter suara yang cukup ‘meledak’ bagi drum track dan membuat bass menjadi lebih ‘aggressive’.

    Warm Audio WA76

    Desain yang inovatif, tonalitas yang ‘kaya’ serta karakter kompresi yang efektif membuat UREI 1176 pantas menyandang predikat classic compressor. Selain itu, jumlah produksi yang sedikit membuat compressor ini cukup langka. Itu sebabnya mengapa banyak ditemukan produk ‘clone’ atau compressor dengan desain dan layout sejenis. Seperti halnya dengan compressor WA76 buatan Warm Audio. Dengan menerapkan desain 1176 Revision D, WA76 juga menggunakan CineMag transformer (Reichenbach Engineering) yang digunakan pada original unit 1176. Tentu selain Warm Audio juga banyak pabrikan Pro Audio lain yang menawarkan ‘clone’ dari compressor legendaris ini. Tapi dari segi harga dan kualitas, Warm Audio pastinya akan memberikan kehangatan di hati para pencinta ‘budget boutique pro audio gears’.

    Solusi Monitoring Dalam Live Production: Personal Monitor Mixing System

    Dalam proses produksi audio, monitoring tentunya menjadi sebuah kebutuhan krusial dimana sistem monitoring yang baik dapat menunjang kinerja sang engineer ataupun musisi dalam menghasilkan sebuah produksi berkualitas. Begitu juga halnya dalam live sound production dimana monitoring untuk musisi berpengaruh besar terhadap kesuksesan sebuah pagelaran/konser. Ketika musisi merasa nyaman dengan monitor yang mereka dengar otomatis mereka dapat bermain dengan maksimal tanpa adanya gangguan yang bisa mempengaruhi ‘mood’ mereka.

    Maka dari itu sangatlah lazim apabila dalam sebuah konser kita melihat satu set console dan gears yang disediakan khusus untuk keperluan monitor panggung. Konfigurasi monitor panggung konvensional seperti ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Kelebihan dari sistem seperti ini tentunya anda memiliki fleksibilitas dan fitur-fitur pada console yang dapat digunakan dalam membentuk monitor mixes. Dan ketika setiap musisi menginginkan monitor mix yang berbeda pastinya tidak akan menjadi masalah apabila anda bekerja dengan matrix mixer.

    Conventional stage monitoring setup

    Tetapi bagaimana ketika anda membutuhkan sistem monitoring yang lebih portable dan dapat dikontrol secara wireless?. Faktor inilah yang menjadikan personal monitor mixing system dari Pivitec berbeda dari sistem kebanyakan. Mari kita telusuri lebih lanjut teknologi yang ditawarkan Pivitec untuk solusi personal monitor mixing system.

    e16i Input Module


    Front

    Rear

    • 24 bit / 48k Analog to Digital Converters
    • 16 Balanced Line Level Inputs via 1/4” TRS connectors
    • Parallel Inputs for pass through connection to other devices
    • Signal and Clip indicators for each audio input
    • +4 / -10 Selectable Input Level
    • High Quality THAT InGenius® Line Receivers on each input
    • Made in USA

    e32 Personal Mixer



    • Stereo Line Level Outputs on 1/4” TRS connectors
    • High Output Headphone Amplifier
    • Local 3.5mm Line Level Input
    • Rugged Extruded Aluminum chassis with Black Anodized finish
    • Wireless control from Pivitec’s V2Mix App for iPhone & iPad
    • Power from external 48VDC supply or PoE (802.11af)
    • Made in USA



    e10SW-P 10-Port Managed GbE Switch

    Merupakan penghubung antara e16i input module dan e32 personal mixer. Dapat digunakan untuk 8 unit e32 sekaligus serta Ethernet port extra untuk koneksi wireless atau ekspansi channel (2 x e16i)

    V2Mix Pro Application

    • NEW - Now Supports iPhone and iPad (iOS6 and up)
    • NEW - Support for Portrait and Landscape orientations
    • NEW - User Assignable "Custom" Fader Bank
    • NEW - Fine tune +/- 1dB fader controls
    • NEW - Link Stereo Channel Pairs
    • Solo, Mute & Pan, Stereo Link Per Channel
    • 16 Mix Presets with sequential or random access
    • Master Section with Volume, 3 Band EQ and Limiter
    • Supports all iOS devices running iOS 6 and higher

    Flexible, precise, dan expandable merupakan kata yang cukup tepat untuk menggambarkan produk mereka. Ketika kita lihat serangkaian sistem di atas, faktor fleksibilitas dari e32 personal mixer yang dapat dikontrol secara wireless lewat iOS app serta penggunaannya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan (digunakan langsung panggung/ dipasang di rack mount untuk wireless IEM/speaker amp source) bisa menjadi kunci bagi solusi personal monitor mixing. Anda sebagai musisi ataupun monitor engineer dapat mengatur keseluruhan balance dari monitor secara instant dan dari posisi yang lebih sesuai ketika dibandingkan dengan menggunakan sistem monitoring konvensional.

    Selain dari itu, kontrol yang akurat (+/- 1dB) dari V2Mix serta fitur presets akan sangat memudahkan pengguna untuk menghasilkan mix yang sempurna setiap saat. Satu hal lagi yang membuat personal monitor mixing system seperti Pivitec bisa menjadi solusi adalah sistem yang lebih ringkas. Ketika anda mengambil jalur audio dari line out stage box ataupun FOH console direct out, anda tidak lagi memerlukan mixer monitor di atas panggung untuk mengatur overall balance dari monitor. Anda dapat menggunakan personal monitor mixing system untuk menciptakan monitor mix yang sesuai kebutuhan dan lebih efisien. Selamat mencoba!

    Focal SM9: DUA Speaker dalam SATU Box

    Siapa yang tidak kenal dengan brand Focal. Sebagai produsen speaker sejak tahun 70-an, Focal telah banyak melakukan riset dan pengembangan dalam hal monitoring. Hal ini cukup terlihat pada salah satu produk high-end mereka yang dinamakan SM9. Sebuah speaker monitor yang menawarkan dua speaker dalam satu desain box/cabinet yang unik. Mari kita telusuri lebih lanjut keunikan dari speaker ini.

    FOCUS Mode

    Seperti yang disebutkan di atas, salah satu keunikan speaker ini adalah dapat berfungsi sebagai dua speaker. Yaitu sebagai 3-way speaker atau 2-way speaker yang dapat diaktifkan melalui ‘FOCUS’ switch pada bagian samping speaker. Ketika speaker ini dalam mode 2-way pastinya akan memberikan kemudahan dalam memonitor posisi mid-range frequency dalam mix. Selain itu dapat berfungsi juga sebagai ‘second reference’ monitor dimana ketika FOCUS mode aktif, respons speaker ini berubah dari 30Hz-40kHz (+/- 3dB) menjadi 90Hz-20kHz (+/- 3dB). Menyerupai respons dari ‘consumer playback system’ seperti televisi, radio, speaker mobil maupun internal speaker pada peralatan media portable.

    Passive Radiator

    Fitur yang satu ini akan aktif ketika speaker dalam mode normal (FOCUS mode off) atau 3-way. Fungsinya adalah memaksimalkan kerja subwoofer dalam mereproduksi sub frequency. Dengan memanfaatkan energi yang dihasilkan subwoofer, passive radiator yang terdiri dari piston yang terbuat dari “W” cone sandwich dan inverted surround radiator ini akan menjangkau frequency lebih rendah tanpa adanya air flow noise.

    “W” Cone Sandwich

    Selama lebih dari 15 tahun Focal telah mengembangkan teknologi sandwich cone dari material composite (campuran). Dengan proses yang mereka sebut “W” ini campuran dari serbuk kaca dan foam/busa di-press menjadi satu. Keseimbangan massa, kekuatan, serta damping dari material tersebut yang akhirnya akan memaksimalkan frequency response dan menghadirkan karakter netral khas Focal.

    Pure Beryllium inverted dome tweeter

    Karakter speaker yang detail serta stereo image yang akurat tentunya juga dipengaruhi oleh teknologi ‘inverted dome’ serta material tweeter yang digunakan. Dengan teknologi ‘inverted dome’ output tweeter bisa menjadi lebih optimal tanpa membutuhkan energy besar. Selain itu penyebaran high frequency dapat lebih merata. Material Beryllium dipilih karena respons dan sustain yang baik terhadap high frequency sehingga kinerja tweeter menjadi lebih optimal.

    Apabila kita lihat dari fitur dan material yang digunakan, sangatlah jelas bahwa speaker ini menawarkan inovasi nyata dalam teknologi speaker monitor. Pengembangan material serta komponen yang didukung dengan teknologi pada akhirnya membuat speaker ini memiliki frequency response sangat baik, stereo image yang akurat, efektif, dan karakter suara yang detail. Jadi tidaklah heran apabila sound engineer sekelas Cenzo Townshend (U2, Snow Patrol, Florence + The Machine) ataupun mastering engineer David ‘Dave’ Kutch (Alicia Keys, The Roots, Outkast) beralih menggunakan Focal SM9. Bagaimana dengan anda? Selamat mencoba! -ryr

    MOJAVE MICS: SEBUAH KUALITAS DAN DETIL YANG SANGAT WAH!

    Apakah anda pernah mendengar sebuah merk microphone yang bernama Mojave? Jika anda pernah mendengarnya, jangan ragu-ragu untuk menggunakan microphone ciamik ini. Apabila belum, saya akan bercerita sedikit tentang sejarah microphone ini dan faktor-faktor yang membedakan microphone ini dengan yang lain. Dimulai pada tahun 1995 oleh seorang microphone designer bertangan dingin bernama David Royer ⎯ Ya, apabila anda merasa nama belakang dari designer microphone ini cukup familiar, David Royer juga merupakan designer yang bertanggung jawab atas inovasi produk-produk microphone ribbon dari pabrikan Royer Labs. Kecintaan David Royer akan musik lah yang mendorongnya untuk terus berinovasi dalam microphone design. Selain itu, ia juga memegang teguh prinsip dimana musik dan audio tidak dapat dipisahkan dari electronic design. Pemikiran yang cukup fantastis, bukan?

    Pic.1. Stevie wonder ketika 'menjajal' Mjave MA201FET


    Pemikiran dan prinsip yang kuat dari David Royer inilah yang akhirnya ditanamkan dalam setiap produk keluaran Mojave mics . Dimulai dari tempat awal pembuatan microphone yang berlokasi di Burbank, California, tube atau tabung NOS (New Old Stock) serta trafo Jensen produksi Amerika pun juga digunakan sebagai komponen utama untuk produk-produk dari Mojave mics. Tidak hanya itu, Mojave mics sangat menyadari pentingnya berinvestasi dalam kualitas komponen audio yang membuat mereka untuk meng-custom resistor unit untuk produk-produk mereka. Luar biasa!

    Pic. 2. David Royer 'sang designer microphone'


    Pic. 3. Mojave MA200 tube microphone

    Pic. 4. Mojave MA201 FET microphone

    Di samping kualitas 'jeroan' atau komponen microphone ini, kualitas keseluruhan juga diuji lewat proses 'burned in' yang memakan waktu hingga 24 jam serta listening test yang dilakukan sendiri oleh David Royer. Pada akhirnya, tidak mengherankan microphone dari pabrikan Mojave mendapat banyak pujian dari para praktisi audio serta musisi. Berikut ini adalah beberapa kutipan yang dapat dirangkum:


    "Those mics kick ass. I can now answer the repeating question on Gearslutz:
    If you only could have one mic, which one? The MA200. Great mics! And the MA-201fet is big and fat, and packs an extra midrange punch that sounds great on vocals, drums and guitars."

    Michael Wagener, Engineer: Ozzy Osbourne, Metallica, Skid Row, Extreme, King's X


    "Dudes, the MA 200 KILLED the M49's that Dave had thrown up for me as room mics. These mics are open, fat and clear -they are killing with NO eq..."
    Ross Hogarth, Producer/Engineer: Ziggy Marley,Jewel, Black Crowes, REM


    "The MA-200 instantly became an integral part of my drum sounds. From the moment I firstput a pair up, they have continued to impress me with a wide open and balanced sound. I'vetracked great sounding vocals, drums, guitars and bass through these mics, and my clients areconsistently blown away by the results."
    Ryan Hewitt, Engineer/Mixer: Red Hot Chili Peppers, blink-182, Alkaline Trio


    "Mojaves are incredible... I'll be using them on everything!"
    Frank Serafine, Sound Designer, Star Trek, Lawnmower Man, P.U.N.K.S.


    "I just purchased an MA-200, IT'S WONDERFUL!!! I will use it in my voiceover studio - replacing an AKG 414B-ULS and a lot of processing."
    Bob Wood, Voice-over Artist: Gilligan's Island, The Miracle of the Cards

    Tipe Audio Kompresor dan Karakter Kompresinya

    Bagi teman-teman yang suka berkutat dengan alat-alat audio processing pastinya kata kompresor sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Dari segi fungsi, kompresor dalam dunia audio biasanya digunakan untuk menjaga dinamika transient level pada instrument tracks atau stereo mix buss. Sedangkan dari segi aplikasi, kompresor sangat lazim digunakan dalam proses mixing, baik itu di dunia live sound atau studio. Selain itu, kompresor juga bisa menjadi alat yang cukup mendukung dalam recording baik itu sebagai ‘creative tools’ atau ‘problem solver’.

    Contohnya, apabila kita ingin mendapatkan efek harmonic distortion, tipe kompresor dengan prinsip Field Effect Transistor (FET) atau tube dengan gain reduction sebesar +/- 10dB mungkin dapat digunakan untuk mencapai tujuan kereatif seperti ini. Sedangkan untuk ‘problem solver’, kompresor dapat berguna ketika kita dalam sesi rekaman vokal dan mendapat seorang vokalis yang sangat bertenaga sehingga signal seringkali ‘clipping’. Settingan kompresor dengan ratio 4:1 atau bahkan 8:1 (tergantung kekuatan si vokalis..haha!) dengan attack medium dan fast release mungkin bisa membantu anda untuk mengatasi hal ini. Maka dari itu, di setiap studio rekaman professional, paling tidak mereka memiliki satu unit kompresor yang dapat dikaryakan.

    Contoh kasus di atas membawa kita kepada topik utama dari artikel ini dimana kita akan membahas tipe audio kompresor dan karakter kompresinya. Kita mulai dari tipe kompresor dengan prinsip Voltage Controlled Amplifier (VCA). Pada dasarnya, kompresor ini menggunakan IC chip yang terdapat transistor di dalamnya. Chip ini digunakan untuk mengontrol dan pada akhirnya menentukan seberapa banyak gain yang akan diterapkan pada sinyal audio (voltage). Karakter kompresi daripada VCA kompresor biasanya mempunyai respons yang cepat terhadap signal audio yang masuk serta kompresi yang ‘bersih’ tanpa ada artifak ‘harmonic distortion’. VCA kompresor biasanya juga mempunyai control yang akurat pada settingan attack dan release. Mungkin faktor-faktor inilah yang pada akhirnya membuat pabrikan audio gears legendaris seperti Solid State Logic (SSL), Automated Processed Inc (API), dan DBX menerapkan prinsip VCA pada kompresor mereka.

    From top: API 2500, SSL Bus Compressor, DBX 160


    Tipe kompresor selanjutnya adalah Field Effect Transistor (FET). FET sendiri sebenarnya masih mempunyai hubungan dengan VCA tetapi dengan karakter yang berbeda. Karena apabila dilihat dari sejarahnya, FET awalnya digunakan untuk mengemulasikan karakter tube di dalam sirkuit solid state. Pastinya, dibandingkan dengan VCA yang ‘bersih’, FET mempunyai karakter kompresi yang lebih ‘berwarna’. Kompresor paling legendaris yang menggunakan prinsip FET compression adalah Urei 1176 yang sekarang banyak didesain ulang oleh para pabrikan audio gears di antaranya Purple Audio dan Lindell.

    From top: Urei 1176LN, Purple Audio MC77, Lindell 7X-500


    Selanjutnya adalah optical atau opto kompresor. Sesuai dengan namanya, opto kompresor menggunakan sumber cahaya di dalam sirkuitnya yang akan menjadi lebih terang ketika level pada sinyal bertambah dan ditangkap oleh sensor optik yang akan memulai proses kompresi. Umumnya, respons kompresi dari opto cukup halus, lambat, dan natural. Tetapi, tergantung dari desain sirkuit, kompresor tipe ini dapat memberikan karakter halus atau seakan-akan tidak dikompres, tetapi bisa juga menjadi agresif dengan kompresi ekstrem yang bisa digunakan sebagai effect.

    Senada dengan opto compressor, tube compressor pada umumnya adalah kompresor dengan prinsip optical tetapi dengan ‘tube gain output stage’. Tetapi, ada juga desain lain yang dikembangkan oleh pabrikan audio gears bernama Manley yang menggunakan vacuum tube untuk menggantikan transistor. Prinsipnya adalah voltage input akan mengubah tube ‘bias’ yang pastinya akan menghasilkan karakter suara yang berbeda. Banyak yang mendeskripsikan desain ini sebagai kompresor yang halus dikarenakan adanya high frequency roll off . Kompresor dari pabrikan Tubetech, Manley Varimu, Retro Instruments, serta Pendulum Audio banyak mengaplikasikan prinsip ini pada produk mereka.

    From top: Tube-Tech CL1B, Manley Vari-mu, Retro STA-level, Pendulum OCL2


    Jadi intinya, kompresor mempunyai karakter kompresi dan prinsip kerja masing-masing yang apabila digunakan secara tepat akan memudahkan anda dalam bekerja. Semoga artikel ini dapat membantu anda dalam berkarya. Stay productive and Viva la Resolucion! ryr

    Focal Menjawab Kebutuhan Portable Reference Monitoring dengan Spirit Professional Headphones

    Dalam era digital dan mobile seperti sekarang ini, sebuah headphones tentunya menjadi salah satu gadget yang harus dimiliki. Jadi tidaklah mengherankan apabila pabrikan Focal yang terkenal sebagai pembuat speaker high-end merambah pasar headphones yang mereka bagi dalam tiga kategori. Yakni mobile, Hi-Fi, dan professional headphones. Tentu bicara reference monitoring headphones yang akan diulas kali ini adalah Spirit Professional yang merupakan closed back, circumaural professional headphones.

    Diklaim sebagai headphones yang memiliki suara neutral dengan reproduksi bass frequency yang akurat serta acoustic insulation yang akan membantu ketika melakukan monitoring di tempat ber-noise level tinggi. Focal Spirit Professional juga memiliki konstruksi luar yang kokoh dengan desain anti getaran dan baret. Untuk transducer, Spirit Pro menggunakan material Mylar-Titanium yang ringan, kokoh, serta memiliki high-damping. Sangat membantu untuk menjaga dinamika dari audio signal sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih neutral dan tanpa distorsi

    Selain itu, kenyamanan juga menjadi faktor utama dalam desain headphones ini. Dengan menggunakan memory-foam berukuran besar, pengguna akan makin dimanjakan karena ear cushion didesain untuk memenuhi bagian kuping dan mengurangi tekanan yang akan dirasakan pengguna. Secara keseluruhan, Focal Spirit Professional dapat menjadi patokan anda dalam memilih reference headphones dikarenakan reproduksi frekuensi yang akurat, tonalitas yang seimbang, serta imaging yang sangat baik. Tidak lupa faktor kenyamanan dan kontruksi yang kokoh dari headphones ini. Selamat mencoba!

    @big_knob supports @disciplesrap #jesusrock Live

    Tanggal 25 April 2012 kemarin di Upper Room; Annex Building Jakarta digelar konser hip-hop rohani kristen pertama di Indonesia bertajuk “Jesus Rock” dari sebuah grup bernama Disciples. Disciples sendiri terdiri dari Igor Saykoji ( @saykoji ), Joshua J-Flow ( @jflowrighthere ), Guntur Simbolon ( @guntursimbolon ) dan Rendy Reinhard ( @RendyNgapz ) yang merupakan rapper dan penyanyi yang tidak asing lagi di industri musik Indonesia.

    the rehearsal

    Dalam konser ini Bigknob Audio merasa bangga bisa turut berpartisipasi dengan memberikan support berupa preamp BAE 1073 DMP untuk dipakai oleh Ronald Steven (@rsteven) sebagai bassist sekaligus Music Director dalam konser ini. Selain itu juga ada speaker monitor Focal CMS65 yang digunakan untuk monitoring recording oleh Kris Choi (@KristianChoi). Di konser ini juga @mokobigbro turut berpartisipasi sebagai FOH Mixing Engineer.

    @KristianChoi with #Focal CMS65



    #BAE DMP for @rsteven

    Semoga melalui konser “Jesus Rock” ini banyak orang-orang yang terberkati. Sukses untuk Disciples untuk album dan konser mereka dan semua pihak yang terlibat dalam konser ini!!

    @disciplesRAP #JesusRockLive