Stay Connected
Need Help? Call +62-21-5794-3860 / 61
Extended Warranty
Blog
Produksi Rasa ‘Indie’ Ala Ari Renaldi

Pergerakan indie atau independent yang memiliki konotasi erat dengan ‘Do it Yourself’ tentu bukan hanya mengarah pada skema distribusi musik dalam label rekaman. Mindset atau cara berpikir dalam konteks ‘Do it Yourself’ juga memiliki pengaruh terhadap metode produksi sebuah lagu/album dimana artis lebih memiliki kebebasan dalam berkarya tanpa terkungkung pada pakem-pakem industri. Kesan inilah yang sangat terasa ketika penulis bertemu Ari Renaldi, seorang Producer/Engineer yang memulai karirnya di dunia musik sebagai session drummer bagi Project Pop dan Rio Febrian.

Kecintaan Ari pada dunia audio pun tumbuh dimana ia besar dalam lingkungan pecinta musik dan audio (orang tua Ari pernah memiliki usaha rental sound system dan studio ternama di Bandung) sampai pada akhirnya memutuskan untuk menghidupkan kembali Studio Aru yang dulu pernah dijalankan oleh keluarganya. Hingga kini, sejumlah artis dan band telah ia produksi di antaranya Mocca, Tulus, dan Raisa.

Analogi ‘time travelling’ dan ‘mindset’

Sebaga produser musik, Ari mengakui pendekatannya lebih banyak dari sisi musikal dimana ia merasa suasana atau ‘ambience’ sebuah komposisi lebih penting dibanding faktor mikro seperti karakter sebuah instrument. “Tapi, bukan berarti ‘sound’ itu tidak penting”, tambahnya. Attitude dan tonalitas pemain pastinya juga berpengaruh pada suara yang dihasilkan.

Dalam hal produksi pun ia menyukai analogy ‘time travelling’ dimana konsep karakter suara dibentuk berdasarkan era yang menjadi acuan. Misalnya, ketika yang menjadi acuan adalah sound Motown pada era 60-an bisa saja ia merekam drum dengan satu microphone lalu diproses lagi melalui plug-ins emulasi yang memang menjadi favorit engineer yang selalu mixing ‘in the box’ ini. “Saya sampai pada titik dimana saya merasa tidak ada yang namanya salah atau benar dalam rekaman, tapi lebih kepada hasil seperti apa yang kita harapkan”, lanjut Ari

Soal audio gears, “saya selalu berusaha untuk tidak melihat merek tapi lebih kepada fungsi dari alat itu.” Kata Ari. Misalnya microphone, ya mau apa pun mereknya yang lebih penting untuk saya jenisnya itu apa, baik itu condenser atau dynamic masing-masing bisa difungsikan sesuai kebutuhan. Ia pun lalu menambahkan, “yang penting kalau buat saya adalah penyampaian musiknya itu sendiri daripada alat apa yang digunakan karena balik lagi ke situasi industri musik yang belum memungkinkan semua artis untuk memproduksi dengan budget besar seperti di luar negeri”.

Tetapi, bukan berarti Ari tidak peduli dengan kualitas suara. Ia pun berkata, “di satu sisi saya tetap berusaha untuk menghadirkan sound sebaik mungkin” seraya menunjukkan koleksi outboards di rak-nya.

Beralih kepada perkembangan scene musik, producer yang pernah mengikuti workshop ‘Mix with The Masters’ di Perancis ini berkata “perkembangan scene musik harusnya sejalan dengan derasnya arus informasi jadi ya diharapkan skill atau kemampuan musisi bisa lebih banyak berkembang serta mindset atau cara berpikir yang lebih terbuka dalam melakukan suatu produksi”. Menariknya adalah sekarang ini tidak terlalu jauh perbedaan kualitas produksi major dan indie dikarenakan faktor budget produksi. Ia lalu menambahkan, “indie itu bukan berarti tidak memperhatikan skill dan kualitas, jadi jangan menjadi indie karena tidak layak menjadi major’. Tukas producer yang banyak terinspirasi dari biografi itu sambil menutup obrolan kami. ryr

Man on Mission: Joseph Manurung

Salah satu ‘SUHU’ audio engineer Indonesia bercerita seputar produksi album NOAH, filosofi rekaman, dan pastinya audio gears.

Joseph Manurung merupakan seorang audio engineer yang memiliki jam terbang cukup tinggi dalam belantika musik Indonesia. Baik itu dalam live sound, recording, hingga terlibat sebagai produser dalam produksi sebuah album. Kliennya pun bisa dibilang lintas genre mulai rock, metal, hingga pop. Dalam produksi album NOAH terbaru yang diberi judul ‘SECOND CHANCE’ Joseph Manurung terlibat sebagai recording serta mixing engineer. Ia juga bekerja sama dengan produser kelas dunia Steve Lillywhite (U2 Rolling Stones, 30 Seconds to Mars) dalam album yang rencananya rilis pada akhir tahun 2014.

Dengan jumlah lagu yang mencapai total sebanyak 40 lagu (37 lagu lama, 3 lagu baru) membuat album NOAH yang berjudul ‘SECOND CHANCE’ ini patut mendapat sorotan. Dari segi produksi, ada beberapa hal yang menarik diantaranya proses untuk menghadirkan ‘sound’ yang sesuai dengan visi para personil NOAH serta keterlibatan Steve Lillywhite yang memang sengaja ‘diboyong’ ke Jakarta untuk langsung menangani produksi album ini.

Seperti yang diutarakan Joseph, hal yang pertama kali ia lakukan dalam produksi NOAH kali ini adalah mendengarkan kemauan dari band terhadap sound lalu ia coba kembangkan sejalan dengan komposisi lagu untuk mendapatkan keseimbangan frekuensi dalam hal musikalitas. Seperti yang diutarakan Joseph, David sebagai keyboardist NOAH banyak membuat bagian-bagian yang mengisi celah-celah frekuensi sehingga komposisi lagu menjadi lebih full-range dalam hal frekuensi. “Jadi misi gue ya menjadikan NOAH seperti harapan mereka secara soundwise”.

Selain lewat komposisi, pemilihan ruangan dalam rekaman album ini juga menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan ‘sound’ yang dicari. Ketika ditanya tentang kabar bahwa rekaman drum album ini dikerjakan di koridor (hallway) Musica Studios dan bukannya di dalam Live room, Joseph menjelaskan awalnya mereka memang mencari ruangan di studio Musica yang karakternya paling ‘Live’. Akhirnya Steve memutuskan untuk menempatkan drum-nya sekalian di koridor setelah mendengarkan rekaman drum gue dengan room mic yang diposisikan di koridor,” lanjut Joseph Manurung.

Bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan produser dunia mungkin bisa dibilang ‘mimpi’ para engineer. Joseph Manurung pun sangat berkesan bisa bekerja sama dengan Steve Lillywhite dan ia merasa kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Joseph Manurung lalu menambahkan, “ yang keren dari Steve (Lillywhite) itu adalah dia bisa mempertemukan apa maunya dia dengan anak-anak (band), sampai-sampai dia punya cara untuk menjalankan visinya tanpa ditolak anak-anak.”

Kalau dari sisi teknis, Steve memang tidak banyak komentar, hanya sebatas supervisor atau quality control saja. Tapi memang bisa terlihat dia menyukai teknologi digital, karena dia benar-benar mendorong gue dalam hal editing di Pro Tools untuk membangun ‘vibe’ lagu yang dia produksi, ujar Joseph Manurung.

Mengenai filosofi dalam memproduksi album, Joseph memilih pendekatan dalam hal teknis ketimbang musikalitas (aransemen,dll). Ia sangat menikmati bekerja sama dengan band karena menurutnya band lebih memiliki ide-ide dan dapat berinteraksi secara musikal yang kemudian ia terjemahkan lewat teknikalitas rekaman dan mixing.

Seperti yang diutarakannya, “Gue dari dulu itu kalau rekaman ya cari dan dapatin sound-nya dulu, pokoknya harus beres dan sesuai fase-nya jadi tidak ‘fix in the mix’.” Alasannya adalah Joseph ingin mengajak musisi untuk bisa melihat pengaruh aransemen dalam hal pembagian dan keseimbangan frekuensi sehingga tidak asal ‘numpuk’.

Soal audio gears, Joseph Manurung termasuk engineer yang suka bekerja dengan outboards ketika mixing, baik itu efek, processor, maupun summing mixer. Soal summing mixer, ia pun menambahkan, “saya lebih suka pakai summing karena ada saturasi yang dihasilkan dari interaksi komponen sehingga suaranya lebih enak” ujar pecinta Empirical Labs Distressor dan ribbon mic ini.

Khusus untuk ribbon mic, Joseph memang menyukai tipe mic satu ini terutama untuk rekaman gitar karena menurutnya sound gitar langsung ‘jadi’.

Ada tips dan saran dari Joseph Manurung untuk para musisi. Ketika rekaman, jangan terlalu berlebihan dalam mencari ‘sound’ dan serahkan masalah teknis ke engineer. Karena dalam tahapan mixing itu pada akhirnya sisi ‘seni’ atau ‘art’ yang akan lebih menonjol dibandingkan dengan jumlah mic yang dipakai ketika rekaman.

Dan untuk menutup obrolan kali ini, Joseph Manurung juga berpesan kepada para engineer yang baru mulai untuk selalu dekat dengan orang-orang yang bisa diserap ilmunya dan masuk dalam lingkungan yang bisa memberikan ‘network’ serta pembelajaran yang baik.

Obrolan Bersama Eko Sulistiyo

Beberapa waktu yang lalu kami bertemu dengan Mas Eko Sulistiyo, salah seorang mix engineer papan atas Indonesia yang belum lama ini menang dalam penghargaan AMI Awards 2014. Kami berkesempatan untuk berbincang-bincang seputar mix workflow, 'mood' sebuah lagu dan tentunya audio gears. Ini dia petikan dari obrolan kami.

-Bagaimana awal mula terjun ke dunia audio?

awalnya saya itu musisi, suka bantuin teman rekaman di studio, cuma emang dari awal jiwa saya itu musisi, bukan engineer..nah sampai suatu waktu saya ketemu sama Mas Genki Gutawa yang waktu itu A&R Warner Music, ditariklah saya untuk kerja bareng dia.

-Project paling menarik yg pernah mas eko kerjakan?

untuk rekaman, salah satunya adalah project album Salute to Koes Plus. waktu itu rekamannya masih pakai pita lalu ditransfer ke Pro Tools dan kondisi saya waktu itu masih belajar! haha

kalau mixing..sebenarnya si banyak, tapi salah satunya itu gue bisa bilang albumnya Sherina. Serunya adalah lagunya bagus-bagus dan gue bisa bereksplorasi dalam hal sound di situ. Termasuk punya andil dalam nentuin lagu mana yg bakal jadi single, karena saking serunya berkarya, si artisnya sendiri ga tau singlenya yg mana..hahaha

-Nah, bagaimana cara mas eko bisa merasakan lagu yang akan jadi single?

sebenernya si itu soal rasa aja ya..prinsipnya gini..lo mau mixing enak ya lagunya sendiri harus udah enak, karena kemungkinan besar lagu yg enak itu bakal jadi single, walaupun persepsi orang beda-beda.

-Bicara soal single, apakah 'hook' sebuah lagu menjadi faktor utama?

mungkin bisa dibilang begitu. Karena kalo kita ngomong soal pop, hook itulah yang jadi 'jualan', kalau misalnya ga ada itulah yg harus kita buat 'setengah mati'

-Gimana pendekatan mas eko dalam membentuk sebuah mixingan?

awalnya si kalo bisa kita tau artisnya dulu, dalam arti maunya mereka itu apa..nah baru kita coba ngebangun 'mood' yang sesuai untuk lagu itu. maksudnya transisi dari verse ke chorus musti jelas, terus kalau misalnya komposisinya emang kurang bagus ya kita coba kulik lagi.

-Lalu gimana cara mas eko ngebangun 'mood' yg sesuai untuk sebuah lagu?

oke, berarti kita omongin workflow ni ya..kalo gue, yg penting data awal itu dipegang asisten dulu..hahaha! jadi dia bakal bikin rough balance baru gue dengerin dari situ. Kalo soal yg mana dulu (musik/vokal) gue pegang, biasanya si ga tentu tapi yang pasti gue itu selalu mulai dengan milih efek, barulah masuk ke rhythm section

-Ada teknik khusus yg biasanya mas eko pake?

gue itu suka nge-replace drum. walaupun snare atau kicknya bagus. prinsip gue gini, snare itu (level) gede gpp, tapi dari ujung ke ujung musti sama, jadi ya harus di -replace, karena kita pengen bikin jelas snare-nya tanpa orang 'ngeh'. kalo misalnya snare bunyinya ga konsisten, lama kelamaan pasti yang dengar bisa ke-distract. kalau soal pop rhythm gue memang rada kejam. pokoknya replace! haha

-Tadi mas eko sempet ngomong sebelum mixing biasanya milih efek dulu, apa efek favorit mas eko?

kalau itu si udah pasti Lexicon 480L, mau itu plug-ins ataupun hardware. alasannya karena gue sudah terbiasa dengan karakter reverb dari 480L

-Kalau alasan Mas Eko milih efek duluan sebelum mixing?

soalnya gue ngerasa mixing is all about having fun jadi buat gue si seru aja ketika misalnya gue kirim snare ke reverb, terus gue dengerin..jadi ga ya soundnya, kalo ga jadi ya paling gue coba treatment yg lain. kayak yang tadi gue bilang, ketika mixing gue itu ngebangun suasana, salah satu tools-nya ya efek.

-Gimana cara Mas Eko memproses vokal?

banyak compression..haha! biasanya gue bisa pake sampe tiga kompresor di vokal dengan settingan yang beda. oh iya, ada tips ni dari temen gue Engineer di Australia, jadi kalo lo pake plug-ins SSL, di bagian hi-shelf eq lo coba set di 1.5k..rendah kan untuk hi shelfing, cuma itu bakal ngaruh ke kejelasan kata-kata atau vocal clarity..coba deh!

Mantabs. Terima kasih Mas Eko atas tips dan obrolannya!

A/D Converter Sebagai Bagian dari ‘Signature Sound’

Dalam dunia produksi berbasis digital,sebuah converter pastinya mempunyai peranan yang sangat penting. Baik itu merupakan converter analog to digital (A/D) maupun digital to analog (D/A). Tetapi sebelum membahas lebih jauh tentang peran A/D converter dalam membentuk ‘signature sound’, ada baiknya bila anda mendapat gambaran terlebih dahulu tentang peranan dasar dari sebuah A/D D/A converter.

Avid HD I/O (audio interface + A/D D/A converter)


Pada dasarnya A/D D/A converter adalah sebuah alat yang dapat mengubah signal analog berupa voltase menjadi binary code sehingga dapat dibaca oleh sistem computer (digital) vice versa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa converter merupakan sebuah jembatan yang menjadi penghubung antara signal audio analog anda dengan sistem digital. Tapi banyak di antara kita yang menyangka bahwa converter tidak akan memberikan ‘artifak’ atau karakter suara tertentu. Walaupun sebenarnya setiap manufaktur memiliki standard dan visi tersendiri dalam memproduksi converter yang pada akhirnya menjadikan setiap converter memiliki hasil konversi atau proses pengubahan yang berbeda.

Forssell MADA-2 (2 channel A/D D/A converter)


Kembali ke topik bahasan kita mengenai A/D converter sebagai bagian dari ‘signature sound’, sekarang ini mulai banyak ditemukan converter dengan ‘tambahan bumbu’. Maksudnya adalah para produsen audio gears professional mulai menyadari pentingnya membuat sebuah converter yang mempunyai karakter audio tersendiri. Baik itu tambahan fitur berupa emulasi karakter tabung atau tape machine seperti pada Crane Song HEDD 192 ataupun dengan tambahan custom transformer seperti yang dilakukan Rich Williams sang desainer Burl B2 Bomber A/D converter (yang juga merupakan otak di balik converter Universal Audio 2192)

Burl Audio B2 Bomber A/D converter


Konsep awal Burl Audio dari setiap desain converter yang akan mereka produksi adalah memberikan komponen dan signal path terbaik. Karena mereka menyadari bahwa standard komponen dari audio interface/converter generik tidak sebanding dengan kualitas komponen dari outboard analog yang banyak dipakai oleh studio professional. Karena itu mereka membuat desain ‘hybrid circuit’ dimana Burl BX1 transformer berada pada input stage dari converter yang mereka produksi. Yang apabila digabungkan dengan discrete class-A, zero-feedback, dan zero capacitor signal path akan menghasilkan perpaduan dinamika dan tonalitas yang seimbang.

Burl B2 Bomber with BX1 Transformers


Jadi untuk memberikan sentuhan ‘signature sound’ dari setiap project yang anda kerjakan, sekarang anda juga dapat mempertimbangkan pengaruh dari external converter. Khususnya sebuah A/D converter dimana alat itu akan menjadi ‘icing on the cake’ atau sentuhan akhir sebelum anda melakukan mix print dan menyerahkan hasilnya ke klien. Selamat mencoba! Viva la Resolucion. -ryr

Rupert Neve Designs: Kebangkitan Dari Sang Electronic Designer Legendaris

Saya sangat yakin bagi kalian yang familiar dengan audio gears, pastinya nama Neve sudah tidak asing lagi. Tetapi, mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa merek Neve awalnya berasal dari nama belakang sang designer itu sendiri. Yang tidak lain adalah Rupert Neve. Sejak kecil, Rupert Neve memang tertarik dengan sirkuit elektronik. Hal ini dibuktikannya dengan memulai untuk mereparasi radio, hingga menciptakan radio buatannya sendiri.

Pada usia 17 tahun, Rupert Neve bergabung dengan angkatan militer Kerajaan Inggris yang pada saat itu sedang terlibat dalam perang dunia kedua. Tergabung dalam divisi Royal Signals yang merupakan detasemen komunikasi bagi angkatan darat, Rupert Neve pun makin memantapkan langkahnya dalam dunia elektronik. Hal yang menarik dan cukup bersejarah adalah ketika Rupert Neve menciptakan PA system yang digunakan oleh Putri Elizabeth (sekarang ratu) dan perdana menteri Inggris Winston Churchill pada era itu.

Pada era tahun 50-an, Rupert memulai karir serius di bidang elektronik dengan bergabung bersama CQ Audio yang merupakan produsen Hi Fi system. Seiring bertambahnya pengalaman, Rupert Neve mulai mendesain mixer atau console yang akan digunakan dalam pagelaran musikal Shakespeare. Ini merupakan tonggak bersejarah dimana Rupert Neve mulai menggali sisi desainer dari kepiawaiannya terhadap sirkuit elektronik. Bak gayung pun bersambut, kepiawaiannya pun makin diperlukan ketika era pop musik meledak di London pada era 60-an. Revolusi musik yang baru pastinya memerlukan alat-alat berteknologi yang dapat memproses suara bagi musik modern pada era itu.

Kreasi Rupert pada era itu diantaranya dua console tabung yang dibuat khusus untuk Leo Pollini dari Recorded Sound Ltd, London. Sebagai desainer, pastinya Rupert Neve terus mengeksplorasi untuk pengembangan teknologi yang akan diterapkan dalam kreasinya. Pada tahun 1964, Rupert mulai mengembangkan alat-alat berbasis transistor yang menggantikan desain tabung konvensional. Klien pertama Rupert untuk alat-alat berbasis transistor pada waktu itu adalah Phillips Record Ltd yang membutuhkan equalizer untuk mengubah keseimbangan tonalitas daripada suara yang sudah direkam sebelumnya. Sebagai info, pemikiran ini ada sebelum era multi-track tape machine. Kesuksesan Rupert Neve dengan EQ ini membuat Phillips dan studio rekaman lainnya mulai untuk memesan console buatan Neve yang akhirnya menjadi Console pilihan bagi studio-studio ternama.

Tahun 1975 merupakan fase baru bagi Neve. Untuk membiayai pengembangan, perusahaan Neve dijual kepada sebuah perusahaan Inggris yang pada akhirnya menjual Neve kepada Siemens group (perusahaan induk AMS) pada tahun 1985. Pada era ini, Rupert dan evelyn istrinya, membuat sebuah perusahaan konsultan yang dinamai ARN, bergerak di bidang sound reinforcement serta acoustics. Selain daripada itu, Rupert dan Evelyn juga membuat sebuah perusahaan baru yang bernama Focusrite Ltd. Di bawah kepemimpinan suami istri ini, sebuah proyek untuk membangun delapan unit console berteknologi tinggi pun diambil oleh mereka. Sayangnya, bagian control digital yang diluar kepiawaian Neve tidak dapat diselesaikan tepat waktu dan membuat perusahaan ini dilikuidasi tahun 1989. Sejak itu, Rupert Neve tidak pernah mendesain produk untuk Focusrite Audio Engineering Ltd.

Perusahaan konsultan Neve, ARN, juga cukup berjasa dalam pengembangan teknologi produk AMEK yang memproduksi outboards dan console. Neve cukup lama bekerja sama dengan AMEK, hingga pada tahun 1993 muncul wacana bagi Neve untuk memindahkan bisnisnya ke Amerika demi pencakupan pasar dunia. Benar saja, pada bulan November 1994, Rupert dan Evelyn beremigrasi ke Wimberley, Texas beserta perusahaannya yang bernama ARN Consultants, LLC. Banyak proyek yang dikerjakan di bawah bendera ARN Consultants, tetapi tidak sedahsyat tahun 2005, dimana ARN Consultants, LLC berubah menjadi merek dagang Rupert Neve Designs, LLC.

Dengan terus melakukan inovasi serta pengembangan desain, Rupert Neve Designs menghadirkan produk-produk yang menjawab kebutuhan para praktisi audio. Mulai dari analog console berdesain modular (5088), signal processor PORTICO series yang portable, hingga kebutuhan analog summing yang dihadirkan lewat 5059 Satellite dan 5060 Centerpiece. Hal ini menjadikan Rupert Neve Designs sebagai produsen pro audio gear yang sarat dengan sejarah serta pengembangan teknologi yang tidak diragukan lagi kemampuan dan kualitasnya. Viva La Resolucion! -ryr

Wanna Get Kick in The Mix?

Sebagai bagian dari drums atau beat, kick pastinya mempunyai peranan besar dalam menjaga ritme sebuah lagu. Baik itu pada dance music, pop, rock, maupun metal. Apabila kita bicara tentang jenis musik, mungkin kalian menyadari bahwa bunyi kick di setiap genre musik tentunya juga berbeda. Sebagai contoh, bunyi kick pada musik hip hop atau electro biasanya selalu mempunyai ‘sub’ frequency content di bawah 60 Hz. Berbeda dengan musik metal yang suara kick-nya lebih dominan ‘attack’ di sekitar 3-4.5 kHz.

Untuk mendapatkan karakter suara yang diinginkan sesuai dengan jenis musik, tentunya kita memerlukan processor yang dapat membentuk suara kick ‘mentah’ menjadi ‘wah’. Dalam hal ini, tentunya saya tidak berbicara tentang synthesis ataupun digital processing semacam detune. Yang akan saya bahas disini adalah mengenai analog gears yang dapat anda gunakan dalam membentuk suara kick itu sendiri. Diantaranya:

  • Compressor

Merupakan dynamics processing yang sangat lazim digunakan untuk menjaga dinamika daripada program material. Dalam konteks membentuk suara kick, compressor dapat menjadikan bunyi kick ‘mentah’ anda menjadi lebih ‘punch’. Tipe compressor yang digunakan untuk memproses kick biasanya adalah F.E.T (Field Effect Transistor) seperti Lindell 7X-500 atau VCA (Voltage Controlled Amplifier) seperti API 525/527. Karena cukup sensitif mendeteksi transient dan cenderung memiliki ‘warna’ dibandingkan opto compressor, kedua tipe compressor ini cukup lazim digunakan untuk memproses kick.

ki-ka: Lindell 7X-500, API 525, API 527


  • Equalizer (EQ)

audio processor standard yang selalu ada dalam signal processing chain. Mungkin terkesan tidak ada yang istimewa dari processor satu ini. Tapi, apabila anda menggunakan jenis EQ dan memilih frekuensi yang tepat tentunya akan menghasilkan efek yang cukup signifikan. Seperti pada MAAG EQ4 dimana terdapat fitur ‘sub’ frequency yang dapat anda gunakan ketika anda ingin menghadirkan elemen sub frequency pada kick track anda.

MAAG EQ4

  • Transient Designer

Audio processor satu ini cukup unik dimana anda dapat mengontrol attack dan sustain daripada fast transient instrument seperti perkusi atau drums. Dalam hal kick drum processing, dengan alat ini anda dapat menjadikan bunyi kick anda lebih ‘punch’ apabila settingan attack lebih dominan dan lebih mempunyai ‘body’ apabila anda set sustain lebih daripada attack ataupun penggabungan antara keduanya. Dan apabila anda dapat mengatur efek dari transient designer ini pada frekuensi tertentu pastinya processing yang anda lakukan pun menjadi lebih efektif. Inilah alasan mengapa Elysia Nvelope 500 menjadi pilihan saya dalam hal transient designer.

Elysia Nvelope 500

Tidak kalah unik dengan transient designer, alat satu ini merupakan desain dari Jonathan Little yang merupakan otak di balik Little Labs. Walaupun konsep awal alat ini adalah untuk memperjelas ‘chest resonance’ dari para vokalis maupun voice over artist, tapi apabila anda menggunakannya pada instrument dengan frekuensi rendah seperti bass dan kick efeknya pun tidak kalah fantastis. Karena alat ini beroperasi pada frekuensi 20-300 Hz, baik itu efek ‘subkick’ maupun ‘beefy bass’ dapat dengan sangat mudah dihasilkan oleh alat yang dinamakan VOG (Voice of God) ini.

Little Labs VOG


Kesimpulannya, baik itu melalui audio processing standard seperti EQ dan dynamics, anda juga dapat menggunakan ‘special tools’ dalam membentuk suara kick yang anda inginkan. Terlebih dengan hardware/outboards dimana efek yang dihasilkan akan jauh lebih detail dan dengan tambahan headroom…Sangat sulit untuk mengatakan tidak kepada outboards. Selamat Mencoba! -ryr

Hal-hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Speaker Monitor Controller

Sebelum memulai topik bahasan kita kali ini, saya ingin memulai dengan satu pertanyaan. ‘Seberapa penting kah speaker monitor controller’? bagi saya, jawabannya hanya ada dua kata…SANGAT PENTING!. Mengapa begitu? Bayangkan ketika anda bekerja tanpa speaker monitor controller dan hanya mengandalkan volume control dari software control panel interface anda. Tiba-tiba, mendadak computer anda mengalami masalah dan mengirimkan digital noise ke audio output. Apa yang anda lakukan? Pastinya anda akan panik dan ketika anda berpikir untuk mematikan speaker semuanya sudah terlambat dan tweeter speaker anda menjadi korban. Pastinya kita semua tidak menginginkan ini terjadi dan solusinya hanya satu…speaker monitor controller!

Pada awalnya, speaker monitor controller dibuat untuk memenuhi kebutuhan monitoring studio modern yang tidak menggunakan mixer/console. Jadi, anda tetap bisa memonitor output dari beberapa sumber (DAW return, mixdown device, computer playback, etc) di beberapa set speakers seperti layaknya pada mixer/console. Dan uniknya, ada dua tipe circuit yang ditawarkan para audio gears manufacturer yakni active dan passive.

Perbedaan passive dan active monitor controller

Seperti kebanyakan sirkuit elektronik, passive berarti tidak menggunakan power supply dan active membutuhkan power supply. Lalu, adakah perbedaan dalam hal kualitas suara? Pastinya ada. Apabila kita berbicara soal passive monitor controller, kelebihannya adalah passive monitor controller cenderung lebih transparan dibandingkan dengan entry level active speaker monitor controller. Mengapa demikian? Minimal signal path dan tanpa adanya pengaruh voltase dari power supply membuat passive speaker monitor dapat mempertahankan tonalitas asli dari system anda tanpa ada tambahan artifak. Yang perlu diperhatikan adalah jangan menggunakan kabel terlalu panjang ketika anda memakai passive monitor controller untuk menghindari tone and transient shift pada monitoring anda.

New Old Sound McOne Passive Monitor Controller

Selain itu, kelemahan dari kebanyakan passive monitor controller adalah perubahan stereo imaging pada level volume rendah. Pastikan anda juga perhatikan hal ini ketika sedang mencoba passive monitor controller. Apabila imaging tidak berubah pada volume rendah, itu berarti anda baru saja menemukan passive monitor controller yang berkualitas.

Sedangkan untuk active monitor controller, saran saya adalah jangan sekali-kali membeli tanpa mencoba terlebih dahulu. Terutama untuk active monitor controller dengan kelas entry level. Karena untuk mendapatkan signal path yang berkualitas pada active system dibutuhkan banyak komponen yang pastinya berpengaruh di harga jual. Maka dari itu active monitor controller yang mempunyai signal path ‘jujur’ memiliki harga yang cukup tinggi. Tetapi, harga yang tinggi biasanya diikuti dengan tambahan fitur seperti Digital to Analog (D/A) converter, cue system, 5.1 (surround), mono sum, etc.

New Old Sound McTwo Studio Monitoring System

Dangerous Music Monitor ST

Jadi intinya, apabila anda memerlukan solusi monitoring dengan fitur yang simple tetapi memiliki audio yang transparan saya rasa passive monitor controller dapat menjadi pilihan. Sedangkan apabila anda membutuhkan D/A converter, talkback system, serta fitur-fitur lainnya dalam monitor controller anda, active monitor controller dapat menjadi solusi. Tapi ingat, cobalah dahulu sebelum membeli agar anda dapat mengetahui dengan pasti kualitas dari monitor controller tersebut. Selamat mencoba dan Viva la Resolucion! -ryr

Mix ITB VS OTB: The Battle continues

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, terutama di bidang komputer pastinya sangat berpengaruh bagi kita semua para pengguna. Tidak terkecuali dalam dunia audio dimana kecepatan komputer sangat berpengaruh terhadap kinerja DAW (Digital Audio Workstation) yang kita gunakan. Hal inilah yang menjadi tonggak awal dimana konsep mixing In The Box (ITB) mulai menjadi pertimbangan para Knobheadz. Bagaimana tidak, seiring dengan makin canggihnya spesifikasi komputer membuat banyak para produsen interface seperti Avid, Apogee, dan Focusrite menelurkan produk-produk interface portable yang sangat mendukung arus trend mixing ITB.

Apogee Duet

Selain itu, teknologi emulasi plug-ins yang pastinya makin canggih juga turut mendukung arus ITB ini. Lalu, bagaimana dengan konsep mixing Out The Box (OTB) dimana outboards menjadi senjata andalan? Naaaah..topik Inilah yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Softube Tube-Tech and Summit Audio plug-ins

Apabila kita lihat dari kelebihan dan kekurangan dari mixing ITB atau OTB, pastinya masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Dan apabila anda suka browsing forum audio pastinya anda akan menemukan banyak thread tentang hal ini. Tentunya, saya juga tidak akan membahas kelebihan dan kekurangan mixing ITB VS OTB karena menurut saya akan menjadi debat kusir yang tidak ada habisnya. Dikarenakan masing-masing individu memiliki gambaran masing-masing tentang ‘the ideal setup’ apakah itu ITB atau OTB.

Tetapi, yang akan dibahas disini adalah trend dimana para gear designer mulai mengembangkan outboards yang bisa menjadi jembatan antara digital dan analog processing. Salah satu contohnya adalah summer/summing box. Sebuah alat yang dapat menghadirkan headroom dan kehangatan analog di track anda. Tidak hanya itu, DSP processing di komputer anda pun menjadi berkurang ketika 16 sub-mix/instrument track anda routing ke summer input. Memang, seperti yang saya bicarakan di atas spesifikasi komputer saat ini sudah sangat canggih sehingga kekuatan komputer pun sudah tidak menjadi masalah

From top: Rupert Neve 5059, Dangerous Music 2-Bus, Chandler Mini Mixer


Lalu bagaimana dengan headroom? Inilah yang menurut saya belum bisa dikejar oleh system digital sehingga keindahan sirkuit sebuah gear analog masih sangat penting dalam dunia produksi audio. Apabila kita bicara soal kehangatan anaolog, walaupun teknologi emulasi digital sudah sangat canggih, anda tetap memerlukan A/D atau D/A eksternal untuk dapat memaksimalkan hasil dari emulasi plug-ins itu sendiri. Sangatlah berbeda apabila komponen analog itu sendiri yang bekerja untuk menghasilkan sebuah kehangatan dan pastinya karakter dari gear tersebut.

Selain summing box, ada satu keluarga gear baru yang bernama 500 series ‘Lunchbox’. Pertama kali dikembangkan oleh API (Automated Processes Inc.) sebuah perusahaan manufaktur audio gears legendaris berbasis di Maryland, USA. 500 series merupakan format baru dalam dunia outboards dimana konsep awalnya diambil dari console yang mempunyai sistem channel strip modular. Modular disini artinya adalah setiap channel mempunyai slot sendiri yang dapat diisi dengan preamp, EQ, ataupun compressor. Ketika diterapkan pada 500 series, konsep modular ini sangatlah efisien karena selain ukuran module yang dibuat lebih kecil (dibandingkan dengan module console), power supply juga pastinya menyesuaikan ukuran module yang kecil sehingga memudahkan mobilitas. Pergerakan yang sangat cerdas dari API! Hasilnya, trend 500 series bahkan merambah sampai di dunia live sound dimana sekarang para artis dapat membawa stage rig-nya masing-masing tanpa harus menyewa kontainer atau keluar ongkos lebih untuk bagasi pesawat.

From top: 6-slot API 500 series rack, full rack with API gears, Rupert Neve 524 Tape Emulator 500 series.

Kembali ke bahasan kita tentang konsep mixing ITB VS OTB, tips dari saya adalah selalu pilih jalan tengah. Artinya, menggabungkan dunia digital dan analog itu sangatlah perlu (hybrid workflow). Seperti para gitaris yang tetap merekam gitar melalui efek pedal dan ampli kabinet, disempurnakan dengan plug-ins emulasi. Begitu juga dengan sound engineer yang tetap memerlukan analog gears sebagai bagian dari ‘signature sound’ ataupun untuk meningkatkan kualitas produksi. Sekarang pertanyaannya adalah, ‘sudahkah anda memerlukan analog gears?’ - Viva La Resolucion!! @rayaraproject

Apa Sih Sebenarnya Analog Summing?

Apabila kita kembali ke jaman analog, tentu peran ‘summing’ dalam mixdown (menyatukan multi-track signal menjadi 2 track stereo) akan dikerjakan oleh console/mixer yang memang menjadi persenjataan utama bagi sebuah studio. Tapi, seiring dengan evolusi sistem audio yang beralih ke digital, perubahan workflow dan alat-alat studio pun tak terhindarkan. Misalnya dalam hal mixer/ console, banyak studio yang mulai meninggalkan mixer berukuran besar atau mixer dengan jumlah channel yang banyak (40+ i/o). Alasannya, maintenance atau perawatan yang dibutuhkan untuk console analog cukup memakan biaya. Selain itu, faktor ‘recall’ atau mengembalikan settingan console sesuai dengan mix session tertentu pastinya memakan waktu. Yang terkadang tidak sesuai dengan tuntutan industri yang menginginkan semuanya ‘serba cepat’

Studio with console setup

Hal seperti inilah yang menjadi pendorong para gear designer untuk menciptakan line mixer bagi keperluan summing. Ketika kita berbicara soal hybrid workflow atau penggunaan sistem DAW yang diintegrasikan dengan analog gears, analog summing mungkin bisa dibilang solusi terbaik. Dimana efisiensi sistem digital dikombinasikan dengan karakter suara dan ‘headroom’ dari analog gears.

Chandler Mini Mixer

Apabila dibandingkan dengan sistem mixing ‘in the box’ (hanya menggunakan audio interface tanpa adanya analog gears) urusan ‘headroom’ memang seringkali dirasa terbatas. Ditandai dengan signal di mix buss atau master fader anda yang selalu mendekati ‘clipping point’ ataupun malah ‘clipping’ /‘peak’ sebelum anda selesai dengan track yang anda mix.

RMS 216 FOLCROM passive summing device

Phoenix Audio Nicerizer 16

Tetapi, hal ini juga bergantung pada bagaimana anda mengoperasikan sistem tersebut. Bukan berarti ketika anda menggunakan analog summing, hasil mix anda yang tadinya jelek akan menjadi bagus. Semuanya tergantung pada teknik mixing dan kuping anda, analog summing hanya akan membantu dalam efisiensi hybrid workflow serta meningkatkan kualitas produksi anda. Selamat mencoba!

EQ dan Fungsinya Dalam Sesi Rekaman

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas penggunaan compressor dalam sesi rekaman. Bagaimana dengan EQ atau equalizer yang juga merupakan audio signal processor? Pada dasarnya, equalizer adalah sebuah alat yang dapat mengatur level daripada sebuah jangkauan frekuensi. Tergantung daripada circuit yang digunakan pada bagian output (ie. transformer/tube), EQ juga dapat digunakan untuk memberikan ‘warna’ tersendiri pada sound palette anda.

Pernahkah anda memperhatikan seorang mix engineer menggunakan kombinasi processor tertentu untuk mix buss processing? Misalnya menggunakan VCA compressor dan tube EQ pada mix buss. Pastinya selain dapat mengontrol dinamika dan keseimbangan frekuensi dari ‘overall mix’ pertimbangan lain adalah faktor yang bisa dibilang ‘signature sound’ dari mix engineer tersebut.

Retro 2A3 - the ultimate mix buss EQ


Lalu, bagaimana dengan penggunaan outboard EQ dalam sesi rekaman?

Seperti yang disebutkan di atas, berdasarkan tipe circuitnya setiap outboard EQ akan menghasilkan karakter yang berbeda. Hal inilah yang bisa anda manfaatkan ketika menggunakan EQ dalam sesi rekaman. Jadi walaupun anda tidak banyak melakukan boost/cut pada frekuensi tertentu, karakter tambahan dari EQ tersebut tetap berpengaruh terhadap signal path anda.

Contohnya ketika anda merekam dengan preamp yang sangat ‘bersih’ tetapi anda memiliki inductor EQ dengan transformer output, tentu anda dapat menghadirkan karakter ‘iron’ ke signal path anda dengan menggunakan EQ tersebut. (atau ketika anda menggunakan EQ pada recording chain direct dari gitar DI)

Heritage Audio 1073/500


Dibandingkan dengan proses ‘surgical EQ’ pada sesi mixing, tentunya dalam sesi rekaman penggunaan EQ akan lebih ringan. Artinya EQ hanya bertugas untuk menjaga keseimbangan frekuensi. Dan pastinya anda tidak akan melakukan pembedahan frekuensi dengan EQ outboard dimana EQ dalam format plug-ins lebih tepat untuk melakukan hal ini

Jenis outboard EQ seperti apa yang anda butuhkan dalam sesi rekaman?

Berdasarkan jenis, EQ dapat dibagi sebagai berikut:

  • 1.Graphic EQ – sangat berguna untuk mengatur balance dari fixed frequency

  • 2.Peak/parametric EQ – memiliki settingan Q (Quality) atau jangkauan frekuensi yang akan diproses oleh EQ

  • 3.Shelving EQ – memiliki gain yang stabil baik itu di atas maupun di bawah jangkauan frekuensi

  • 4.Baxandall curve EQ – memiliki Q yang sangat lebar dan tanpa saturasi warna dari circuit

Bagi anda yang mungkin baru mulai untuk membeli outboards, preamp/EQ unit bisa menjadi pertimbangan karena selain dapat digunakan ketika rekaman anda juga dapat menggunakannya dalam sesi mixing.

Selain jenis EQ, salah satu fitur yang selalu ada pada EQ unit adalah filter section (HPF) yang dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan frekuensi bawah. Dan ketika anda memiliki EQ dengan minimum tiga frequency band (lo mid hi) pastinya akan sangat berguna untuk mengatur keseluruhan frekuensi

Jadi dapat disimpulkan EQ pada sesi rekaman dapat digunakan untuk memberikan warna tersendiri tergantung dari kebutuhan ataupun hasil yang ingin anda capai. Selain itu, EQ juga sangat berguna dalam mengatur frequency balance terutama pada sesi live recording sehingga hasil terbaik dapat tercapai dalam setiap proses produksi. Selamat mencoba!

Signal Processor dalam Sesi Rekaman: Compressor

Signal processor merupakan sebuah alat elektronik yang akan memberikan tambahan proses terhadap signal audio baik itu dari segi dinamika maupun frequency balance. Berdasarkan fungsinya tentu alat ini menjadi bagian penting dalam proses produksi audio. Dalam sesi mixing, signal processor menjadi senjata utama para mixing engineer dalam membentuk karakter sonic dari sebuah program material. Kombinasi dari berbagai macam tipe signal processor bahkan sengaja diramu oleh para mixing engineer sebagai bagian dari ‘signature sound’ mereka.

Tetapi bagaimana halnya dengan sesi rekaman? Banyak recording engineer yang percaya bahwa rekaman harus dilakukan se-natural mungkin dalam arti tanpa adanya penambahan signal processor. Tidak ada hal yang salah atau benar disini karena dalam creative industry tentunya anda memiliki ‘mindset’ untuk memberikan hasil terbaik dalam setiap produksi yang anda kerjakan.

Mengacu pada ‘mindset’ creative industry di atas, penggunaan signal processor dalam sesi rekaman bisa saja dibutuhkan untuk menghasilkan dinamika dan frequency balance berkualitas professional. Dalam bagian pertama artikel kali ini, kita akan membahas tentang penggunaan compressor dalam sesi rekaman vokal dan gitar.

Vokal

Sebagai komponen utama penyampai pesan dalam sebuah komposisi, vokal sering kali mendapat ‘sentuhan’ compressor dalam sesi rekaman. Mengapa? Salah satu faktornya adalah perbedaan dinamika dalam komposisi musik. Vokalis tentunya mengerahkan tenaga yang berbeda ketika bernyanyi bagian verse dan chorus. Perbedaan dinamika inilah yang sering kali membuat lonjakan level pada signal audio. Untuk mengatasi hal ini, digunakanlah sebuah compressor. Dengan mengatur slow attack dan fast release pada compressor, (threshold disesuaikan dengan input level) gain reduction hanya akan terjadi pada frase yang menonjol sehingga hasil rekaman anda menjadi terdengar lebih professional.

Retro Instruments 176 Tube compressor

Ada satu tips bagi anda yang ingin menghadirkan karakter tabung ketika merekam vokal menggunakan F.E.T condenser. Anda bisa mencoba untuk menggunakan tube compressor dalam vocal recording chain anda. Apabila anda tidak menginginkan gain reduction, tentunya parameter bisa disesuaikan sehingga signal hanya melewati compressor tanpa adanya proses compression yang terjadi.

Warm Audio WA76 F.E.T Compressor

Gitar

Instrumen yag satu ini juga menjadi ‘kawan’ bagi compressor dalam sesi rekaman. Terutama ketika bagian rhythm gitar bermain dengan ‘powerchord’ ataupun ketika anda ingin bagian solo gitar memiliki tonalitas berbeda dengan dinamika yang terjaga. Untuk parameter, pastinya disesuaikan dengan karakter seperti apa yang anda ingin hasilkan. Misalnya untuk membuat distorted rhythm gitar menjadi lebih ‘punch’ dan fokus anda bisa mengatur fast attack dengan medium release. Tetapi jangan lupa untuk selalu melihat gain reduction meter pada compressor anda karena anda tidak ingin meng-compress banyak ketika rekaman. Dan yang terpenting adalah ‘always judge by your ears’

Chandler Limited Germanium Compressor

Kesimpulannya, compressor bisa menjadi solusi tersendiri dalam sesi rekaman pada setiap produksi audio. Tergantung tipe compressor dan parameter yang anda set, setiap compressor akan menghasilkan karakter output yang berbeda. Pilihannya, tergantung selera dan kebutuhan anda. Selamat mencoba! -ryr

Empirical Labs DocDerr: Multi-Purpose Tone Enhancement Module

Kehadiran API 500 series module dalam dunia Pro Audio gears tentu membawa ‘angin segar’ bagi para pecinta outboards. Bagaimana tidak, dengan harga jual yang lebih ekonomis serta faktor ergonomis menjadikan outboards dalam format ini pilihan favorit para musisi/engineer. Empirical Labs pun tak mau ketinggalan dalam evolusi outboards abad ini. Terkenal dengan inovasi compressor mereka yang bernama ‘Distressor’, pabrikan Pro Audio yang berbasis di New Jersey, USA ini turut mengembangkan 500 series module yang dinamakan DocDerr.

Overview

Ketika melihat sekilas tampilan alat ini, pastinya banyak orang yang langsung mengetahui bahwa ini adalah sebuah equalizer (EQ). Tapi, apabila diperhatikan lebih lanjut ada dua knob dengan label ‘IN’ dan ‘MIX’. Yang biasanya bukan merupakan fitur dari outboard EQ. Lalu, apa kegunaan dua knob tersebut?

Inilah yang menjadikan DocDerr berbeda dari 500 series EQ module yang lain. Selain memiliki 3-band EQ section, Empirical Labs menambahkan line amp section yang dapat digunakan pada line/instrument level. Jadi, anda dapat menambahkan gain sebanyak 16dB lewat knob ‘IN’ tersebut.. Tidak hanya itu, pada DocDerr juga terdapat dynamics section serta tape emulation circuit yang dapat diatur tingkat saturasinya lewat knob ‘MIX’. Walaupun parameter dynamics tidak tersedia pada alat ini, anda tetap dapat mengatur seberapa agresif dynamics processing dari alat ini lewat kombinasi knob ‘IN’ dan ‘MIX’.

Penggunaan

Bicara soal suara, Empirical Labs memang memiliki keunikan tersendiri. Tidak terkecuali dengan 500 series mereka yang bernama DocDerr. Fitur line amp ‘IN’ sangat berguna untuk memberi ‘bumbu’ pada signal DI dari instrument anda ketika tracking. Ditambah dengan sikuit EQ, saturasi compressor dan tape emulation, tentu bisa menjadi senjata pamungkas anda dalam ‘memoles’ line/instrument signal. Singkatnya, baik itu sebagai pembentuk tonalitas ketika tracking ataupun ‘memoles’ karakter signal ketika mixing, Empirical Labs DocDerr patut anda coba!

Softube Console 1: Analog Workflow in Digital Realm

Peran Digital Audio Workstation (DAW) sebagai platform utama dalam audio production pastinya membawa banyak perubahan dalam workflow atau cara bekerja para musisi/engineer dalam proses produksi. Begitu pula halnya dengan proses mixing. Ketika kita kembali pada masa analog (pre-DAW), signal audio yang akan kita mix tentu tidak memiliki tampilan visual seperti layaknya pada DAW. Jadi, anda lebih menggunakan telinga tanpa adanya ‘visual distraction’ yang mungkin dapat memecah konsentrasi anda.

Selain itu, workflow analog yang mengharuskan engineer berinteraksi dengan knob outboards ataupun console fader tentu membuat proses mixing analog menjadi lebih ‘bernyawa’ dan menyenangkan. Sangat berbeda ketika dibandingkan dengan proses mixing digital yang hanya menggunakan mouse untuk mengatur parameter plug-ins ataupun DAW mixer. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran DAW controller ataupun plug-ins controller cukup membantu dalam menghadirkan ‘feel’ analog mixing. Tapi, ketika kita bicara soal ‘the real analog workflow’ dalam dunia digital audio, Softube Console 1 mungkin dapat menjadi solusi untuk anda.

Dengan menghadirkan emulasi dari Solid State Logic 4000 E console yang merupakan mixing console legendaris, anda dapat menghadirkan karakter analog dari console tersebut dalam system digital anda. Karena Softube tidak hanya mengemulasi karakter input dari console tersebut, melainkan juga processor yang terdiri dari EQ dan dynamics. Selain menggunakan console, dalam analog workflow pastinya juga terdapat outboards yang diaplikasikan sebagai ‘insert’ dalam memproses signal audio. Lewat plug-ins Softube yang bervariasi, karakter outboards seperti Tube-Tech, Summit Audio, ataupun Trident EQ dapat dengan mudah diaplikasikan melalui Softube Console 1.

Inovasi Softube tentu tidak hanya sampai disitu. Selain ‘hands-on control’ lewat penggunaan hardware unit, tampilan visual yang interaktif juga tersedia pada Softube Console 1. Hal ini akan membuat analog worklow anda menjadi lebih ‘modern’ dan efektif. Karena visual display dari Softube Console 1 akan menampilkan informasi detail tentang parameter plug-ins beserta meter bridge untuk setiap channel bank yang dipilih. Artinya, anda dapat melakukan mixing tanpa harus terpaku pada tampilan DAW dan merasakan analog workflow yang sesungguhnya dengan Softube Console 1. Selamat mencoba!

  • Softube merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi hardware dan software bagi kebutuhan industri audio. Berbasis di Swedia, perusahaan satu ini benar-benar mengembangkan teknologi emulation atau simulasi yang akurat dari hardware professional audio serta menciptakan audio plug-ins berkualitas dengan CPU load yang rendah. www.softube.com
  • Classic Compressor Series: UREI 1176

    Bicara soal compressor yang satu ini tentu kita tidak akan melewatkan sosok Bill Putnam Sr. Merupakan otak di balik Universal Audio, Studio Electronics, dan UREI (United Recording Electronic Industries). Bill Putnam Sr. banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan industri rekaman lewat hasil ciptaannya yang inovatif. Di antaranya dalam hal layout modern mixing console, termasuk channel strip processing dan konsep auxiliary (send) busses.

    Bill Putnam Sr.

    Dibuat pertama kali pada sekitar tahun 1967 (Revision A) oleh Bill Putnam Sr, UREI 1176 langsung menuai banyak respons karena desainnya yang cukup inovatif. Dari segi sirkuit, UREI 1176 merupakan ‘peak limiter’ pertama yang menggunakan solid-state (transistor) secara menyeluruh. Maka tidaklah mengherankan jika dynamics processor satu ini sering dikenal dengan sebutan F.E.T (Field Effect Transistor) compressor.

    UREI 1176LN Limiting Amplifier

    Mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa 1176 memiliki ‘kakak’ yang dinamakan Universal Audio 176. Diklaim banyak engineer dan musisi sebagai ‘the best compressor ever made’ karena tonalitas yang dihasilkan compressor tersebut. Tentu hal ini tidak terlepas dari sirkuit 176 yang menggunakan variable-mu tube gain reduction design. Artinya gain reduction dikontrol oleh variable-mu dual triode tube yang akan menekan dynamic range ketika input signal membesar. Seperti layaknya tube compressor, attack atau waktu yang dibutuhkan compressor untuk mulai memproses signal tentunya tidak dapat mendeteksi transient yang sangat cepat. Mungkin faktor inilah inilah yang membuat Bill Putnam Sr. mengembangkan desainnya dan menerapkan konsep solid state design. Penggunaan F.E.T pada UREI 1176 membuat attack menjadi lebih efektif dan 'karakter' pun tetap dihasilkan lewat trafo Cinemag (Reichenbach Engineering).

    Universal Audio 175/176

    Bicara soal tonalitas, faktor satu ini tentunya menjadi alasan mengapa 1176 sangat digemari musisi dan engineer. Ketika digunakan pada vokal, desain FET dari 1176 akan membuat tone menjadi lebih ‘bright’ dengan tambahan energi yang dihasilkan dari karakter kompresi sehingga vokal akan tetap berada di depan ketika mixing. Lain halnya ketika digunakan pada drums. Kemampuan attack yang cepat dari 1176 menjadikan compressor satu ini sangat efektif dalam memproses drum tracks. Dan ketika semua tombol ratio ditekan (all button in/BRIT mode), compressor akan menghasilkan karakter suara yang cukup ‘meledak’ bagi drum track dan membuat bass menjadi lebih ‘aggressive’.

    Warm Audio WA76

    Desain yang inovatif, tonalitas yang ‘kaya’ serta karakter kompresi yang efektif membuat UREI 1176 pantas menyandang predikat classic compressor. Selain itu, jumlah produksi yang sedikit membuat compressor ini cukup langka. Itu sebabnya mengapa banyak ditemukan produk ‘clone’ atau compressor dengan desain dan layout sejenis. Seperti halnya dengan compressor WA76 buatan Warm Audio. Dengan menerapkan desain 1176 Revision D, WA76 juga menggunakan CineMag transformer (Reichenbach Engineering) yang digunakan pada original unit 1176. Tentu selain Warm Audio juga banyak pabrikan Pro Audio lain yang menawarkan ‘clone’ dari compressor legendaris ini. Tapi dari segi harga dan kualitas, Warm Audio pastinya akan memberikan kehangatan di hati para pencinta ‘budget boutique pro audio gears’.

    Solusi Monitoring Dalam Live Production: Personal Monitor Mixing System

    Dalam proses produksi audio, monitoring tentunya menjadi sebuah kebutuhan krusial dimana sistem monitoring yang baik dapat menunjang kinerja sang engineer ataupun musisi dalam menghasilkan sebuah produksi berkualitas. Begitu juga halnya dalam live sound production dimana monitoring untuk musisi berpengaruh besar terhadap kesuksesan sebuah pagelaran/konser. Ketika musisi merasa nyaman dengan monitor yang mereka dengar otomatis mereka dapat bermain dengan maksimal tanpa adanya gangguan yang bisa mempengaruhi ‘mood’ mereka.

    Maka dari itu sangatlah lazim apabila dalam sebuah konser kita melihat satu set console dan gears yang disediakan khusus untuk keperluan monitor panggung. Konfigurasi monitor panggung konvensional seperti ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Kelebihan dari sistem seperti ini tentunya anda memiliki fleksibilitas dan fitur-fitur pada console yang dapat digunakan dalam membentuk monitor mixes. Dan ketika setiap musisi menginginkan monitor mix yang berbeda pastinya tidak akan menjadi masalah apabila anda bekerja dengan matrix mixer.

    Conventional stage monitoring setup

    Tetapi bagaimana ketika anda membutuhkan sistem monitoring yang lebih ringkas dan dapat dikontrol secara wireless?. Faktor inilah yang menjadikan personal monitor mixing system dari Pivitec berbeda dari sistem kebanyakan. Mari kita telusuri lebih lanjut teknologi yang ditawarkan Pivitec untuk solusi personal monitor mixing system.

    e16i Input Module


    Front

    Rear

    • 24 bit / 48k Analog to Digital Converters
    • 16 Balanced Line Level Inputs via 1/4” TRS connectors
    • Parallel Inputs for pass through connection to other devices
    • Signal and Clip indicators for each audio input
    • +4 / -10 Selectable Input Level
    • High Quality THAT InGenius® Line Receivers on each input
    • Made in USA

    e32 Personal Mixer



    • Stereo Line Level Outputs on 1/4” TRS connectors
    • High Output Headphone Amplifier
    • Local 3.5mm Line Level Input
    • Rugged Extruded Aluminum chassis with Black Anodized finish
    • Wireless control from Pivitec’s V2Mix App for iPhone & iPad
    • Power from external 48VDC supply or PoE (802.11af)
    • Made in USA



    e10SW-P 10-Port Managed GbE Switch

    Merupakan penghubung antara e16i input module dan e32 personal mixer. Dapat digunakan untuk 8 unit e32 sekaligus serta Ethernet port extra untuk koneksi wireless atau ekspansi channel (2 x e16i)

    V2Mix Pro Application

    • NEW - Now Supports iPhone and iPad (iOS6 and up)
    • NEW - Support for Portrait and Landscape orientations
    • NEW - User Assignable "Custom" Fader Bank
    • NEW - Fine tune +/- 1dB fader controls
    • NEW - Link Stereo Channel Pairs
    • Solo, Mute & Pan, Stereo Link Per Channel
    • 16 Mix Presets with sequential or random access
    • Master Section with Volume, 3 Band EQ and Limiter
    • Supports all iOS devices running iOS 6 and higher

    Flexible, precise, dan expandable merupakan kata yang cukup tepat untuk menggambarkan produk mereka. Ketika kita lihat serangkaian sistem di atas, faktor fleksibilitas dari e32 personal mixer yang dapat dikontrol secara wireless lewat iOS app serta penggunaannya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan (digunakan langsung panggung/ dipasang di rack mount untuk wireless IEM/speaker amp source) bisa menjadi kunci bagi solusi personal monitor mixing. Anda sebagai musisi ataupun monitor engineer dapat mengatur keseluruhan balance dari monitor secara instant dan dari posisi yang lebih sesuai ketika dibandingkan dengan menggunakan sistem monitoring konvensional.

    Selain dari itu, kontrol yang akurat (+/- 1dB) dari V2Mix serta fitur presets akan sangat memudahkan pengguna untuk menghasilkan mix yang sempurna setiap saat. Satu hal lagi yang membuat personal monitor mixing system seperti Pivitec bisa menjadi solusi adalah sistem yang lebih ringkas. Ketika anda mengambil jalur audio dari line out stage box ataupun FOH console direct out, anda tidak lagi memerlukan mixer monitor di atas panggung untuk mengatur overall balance dari monitor. Anda dapat menggunakan personal monitor mixing system untuk menciptakan monitor mix yang sesuai kebutuhan dan lebih efisien. Selamat mencoba!

    Focal SM9: DUA Speaker dalam SATU Box

    Siapa yang tidak kenal dengan brand Focal. Sebagai produsen speaker sejak tahun 70-an, Focal telah banyak melakukan riset dan pengembangan dalam hal monitoring. Hal ini cukup terlihat pada salah satu produk high-end mereka yang dinamakan SM9. Sebuah speaker monitor yang menawarkan dua speaker dalam satu desain box/cabinet yang unik. Mari kita telusuri lebih lanjut keunikan dari speaker ini.

    FOCUS Mode

    Seperti yang disebutkan di atas, salah satu keunikan speaker ini adalah dapat berfungsi sebagai dua speaker. Yaitu sebagai 3-way speaker atau 2-way speaker yang dapat diaktifkan melalui ‘FOCUS’ switch pada bagian samping speaker. Ketika speaker ini dalam mode 2-way pastinya akan memberikan kemudahan dalam memonitor posisi mid-range frequency dalam mix. Selain itu dapat berfungsi juga sebagai ‘second reference’ monitor dimana ketika FOCUS mode aktif, respons speaker ini berubah dari 30Hz-40kHz (+/- 3dB) menjadi 90Hz-20kHz (+/- 3dB). Menyerupai respons dari ‘consumer playback system’ seperti televisi, radio, speaker mobil maupun internal speaker pada peralatan media portable.

    Passive Radiator

    Fitur yang satu ini akan aktif ketika speaker dalam mode normal (FOCUS mode off) atau 3-way. Fungsinya adalah memaksimalkan kerja subwoofer dalam mereproduksi sub frequency. Dengan memanfaatkan energi yang dihasilkan subwoofer, passive radiator yang terdiri dari piston yang terbuat dari “W” cone sandwich dan inverted surround radiator ini akan menjangkau frequency lebih rendah tanpa adanya air flow noise.

    “W” Cone Sandwich

    Selama lebih dari 15 tahun Focal telah mengembangkan teknologi sandwich cone dari material composite (campuran). Dengan proses yang mereka sebut “W” ini campuran dari serbuk kaca dan foam/busa di-press menjadi satu. Keseimbangan massa, kekuatan, serta damping dari material tersebut yang akhirnya akan memaksimalkan frequency response dan menghadirkan karakter netral khas Focal.

    Pure Beryllium inverted dome tweeter

    Karakter speaker yang detail serta stereo image yang akurat tentunya juga dipengaruhi oleh teknologi ‘inverted dome’ serta material tweeter yang digunakan. Dengan teknologi ‘inverted dome’ output tweeter bisa menjadi lebih optimal tanpa membutuhkan energy besar. Selain itu penyebaran high frequency dapat lebih merata. Material Beryllium dipilih karena respons dan sustain yang baik terhadap high frequency sehingga kinerja tweeter menjadi lebih optimal.

    Apabila kita lihat dari fitur dan material yang digunakan, sangatlah jelas bahwa speaker ini menawarkan inovasi nyata dalam teknologi speaker monitor. Pengembangan material serta komponen yang didukung dengan teknologi pada akhirnya membuat speaker ini memiliki frequency response sangat baik, stereo image yang akurat, efektif, dan karakter suara yang detail. Jadi tidaklah heran apabila sound engineer sekelas Cenzo Townshend (U2, Snow Patrol, Florence + The Machine) ataupun mastering engineer David ‘Dave’ Kutch (Alicia Keys, The Roots, Outkast) beralih menggunakan Focal SM9. Bagaimana dengan anda? Selamat mencoba! -ryr

    MOJAVE MICS: SEBUAH KUALITAS DAN DETIL YANG SANGAT WAH!

    Apakah anda pernah mendengar sebuah merk microphone yang bernama Mojave? Jika anda pernah mendengarnya, jangan ragu-ragu untuk menggunakan microphone ciamik ini. Apabila belum, saya akan bercerita sedikit tentang sejarah microphone ini dan faktor-faktor yang membedakan microphone ini dengan yang lain. Dimulai pada tahun 1995 oleh seorang microphone designer bertangan dingin bernama David Royer ⎯ Ya, apabila anda merasa nama belakang dari designer microphone ini cukup familiar, David Royer juga merupakan designer yang bertanggung jawab atas inovasi produk-produk microphone ribbon dari pabrikan Royer Labs. Kecintaan David Royer akan musik lah yang mendorongnya untuk terus berinovasi dalam microphone design. Selain itu, ia juga memegang teguh prinsip dimana musik dan audio tidak dapat dipisahkan dari electronic design. Pemikiran yang cukup fantastis, bukan?

    Pic.1. Stevie wonder ketika 'menjajal' Mjave MA201FET


    Pemikiran dan prinsip yang kuat dari David Royer inilah yang akhirnya ditanamkan dalam setiap produk keluaran Mojave mics . Dimulai dari tempat awal pembuatan microphone yang berlokasi di Burbank, California, tube atau tabung NOS (New Old Stock) serta trafo Jensen produksi Amerika pun juga digunakan sebagai komponen utama untuk produk-produk dari Mojave mics. Tidak hanya itu, Mojave mics sangat menyadari pentingnya berinvestasi dalam kualitas komponen audio yang membuat mereka untuk meng-custom resistor unit untuk produk-produk mereka. Luar biasa!

    Pic. 2. David Royer 'sang designer microphone'


    Pic. 3. Mojave MA200 tube microphone

    Pic. 4. Mojave MA201 FET microphone

    Di samping kualitas 'jeroan' atau komponen microphone ini, kualitas keseluruhan juga diuji lewat proses 'burned in' yang memakan waktu hingga 24 jam serta listening test yang dilakukan sendiri oleh David Royer. Pada akhirnya, tidak mengherankan microphone dari pabrikan Mojave mendapat banyak pujian dari para praktisi audio serta musisi. Berikut ini adalah beberapa kutipan yang dapat dirangkum:


    "Those mics kick ass. I can now answer the repeating question on Gearslutz:
    If you only could have one mic, which one? The MA200. Great mics! And the MA-201fet is big and fat, and packs an extra midrange punch that sounds great on vocals, drums and guitars."

    Michael Wagener, Engineer: Ozzy Osbourne, Metallica, Skid Row, Extreme, King's X


    "Dudes, the MA 200 KILLED the M49's that Dave had thrown up for me as room mics. These mics are open, fat and clear -they are killing with NO eq..."
    Ross Hogarth, Producer/Engineer: Ziggy Marley,Jewel, Black Crowes, REM


    "The MA-200 instantly became an integral part of my drum sounds. From the moment I firstput a pair up, they have continued to impress me with a wide open and balanced sound. I'vetracked great sounding vocals, drums, guitars and bass through these mics, and my clients areconsistently blown away by the results."
    Ryan Hewitt, Engineer/Mixer: Red Hot Chili Peppers, blink-182, Alkaline Trio


    "Mojaves are incredible... I'll be using them on everything!"
    Frank Serafine, Sound Designer, Star Trek, Lawnmower Man, P.U.N.K.S.


    "I just purchased an MA-200, IT'S WONDERFUL!!! I will use it in my voiceover studio - replacing an AKG 414B-ULS and a lot of processing."
    Bob Wood, Voice-over Artist: Gilligan's Island, The Miracle of the Cards

    Tipe Audio Kompresor dan Karakter Kompresinya

    Bagi teman-teman yang suka berkutat dengan alat-alat audio processing pastinya kata kompresor sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Dari segi fungsi, kompresor dalam dunia audio biasanya digunakan untuk menjaga dinamika transient level pada instrument tracks atau stereo mix buss. Sedangkan dari segi aplikasi, kompresor sangat lazim digunakan dalam proses mixing, baik itu di dunia live sound atau studio. Selain itu, kompresor juga bisa menjadi alat yang cukup mendukung dalam recording baik itu sebagai ‘creative tools’ atau ‘problem solver’.

    Contohnya, apabila kita ingin mendapatkan efek harmonic distortion, tipe kompresor dengan prinsip Field Effect Transistor (FET) atau tube dengan gain reduction sebesar +/- 10dB mungkin dapat digunakan untuk mencapai tujuan kereatif seperti ini. Sedangkan untuk ‘problem solver’, kompresor dapat berguna ketika kita dalam sesi rekaman vokal dan mendapat seorang vokalis yang sangat bertenaga sehingga signal seringkali ‘clipping’. Settingan kompresor dengan ratio 4:1 atau bahkan 8:1 (tergantung kekuatan si vokalis..haha!) dengan attack medium dan fast release mungkin bisa membantu anda untuk mengatasi hal ini. Maka dari itu, di setiap studio rekaman professional, paling tidak mereka memiliki satu unit kompresor yang dapat dikaryakan.

    Contoh kasus di atas membawa kita kepada topik utama dari artikel ini dimana kita akan membahas tipe audio kompresor dan karakter kompresinya. Kita mulai dari tipe kompresor dengan prinsip Voltage Controlled Amplifier (VCA). Pada dasarnya, kompresor ini menggunakan IC chip yang terdapat transistor di dalamnya. Chip ini digunakan untuk mengontrol dan pada akhirnya menentukan seberapa banyak gain yang akan diterapkan pada sinyal audio (voltage). Karakter kompresi daripada VCA kompresor biasanya mempunyai respons yang cepat terhadap signal audio yang masuk serta kompresi yang ‘bersih’ tanpa ada artifak ‘harmonic distortion’. VCA kompresor biasanya juga mempunyai control yang akurat pada settingan attack dan release. Mungkin faktor-faktor inilah yang pada akhirnya membuat pabrikan audio gears legendaris seperti Solid State Logic (SSL), Automated Processed Inc (API), dan DBX menerapkan prinsip VCA pada kompresor mereka.

    From top: API 2500, SSL Bus Compressor, DBX 160


    Tipe kompresor selanjutnya adalah Field Effect Transistor (FET). FET sendiri sebenarnya masih mempunyai hubungan dengan VCA tetapi dengan karakter yang berbeda. Karena apabila dilihat dari sejarahnya, FET awalnya digunakan untuk mengemulasikan karakter tube di dalam sirkuit solid state. Pastinya, dibandingkan dengan VCA yang ‘bersih’, FET mempunyai karakter kompresi yang lebih ‘berwarna’. Kompresor paling legendaris yang menggunakan prinsip FET compression adalah Urei 1176 yang sekarang banyak didesain ulang oleh para pabrikan audio gears di antaranya Purple Audio dan Lindell.

    From top: Urei 1176LN, Purple Audio MC77, Lindell 7X-500


    Selanjutnya adalah optical atau opto kompresor. Sesuai dengan namanya, opto kompresor menggunakan sumber cahaya di dalam sirkuitnya yang akan menjadi lebih terang ketika level pada sinyal bertambah dan ditangkap oleh sensor optik yang akan memulai proses kompresi. Umumnya, respons kompresi dari opto cukup halus, lambat, dan natural. Tetapi, tergantung dari desain sirkuit, kompresor tipe ini dapat memberikan karakter halus atau seakan-akan tidak dikompres, tetapi bisa juga menjadi agresif dengan kompresi ekstrem yang bisa digunakan sebagai effect.

    Senada dengan opto compressor, tube compressor pada umumnya adalah kompresor dengan prinsip optical tetapi dengan ‘tube gain output stage’. Tetapi, ada juga desain lain yang dikembangkan oleh pabrikan audio gears bernama Manley yang menggunakan vacuum tube untuk menggantikan transistor. Prinsipnya adalah voltage input akan mengubah tube ‘bias’ yang pastinya akan menghasilkan karakter suara yang berbeda. Banyak yang mendeskripsikan desain ini sebagai kompresor yang halus dikarenakan adanya high frequency roll off . Kompresor dari pabrikan Tubetech, Manley Varimu, Retro Instruments, serta Pendulum Audio banyak mengaplikasikan prinsip ini pada produk mereka.

    From top: Tube-Tech CL1B, Manley Vari-mu, Retro STA-level, Pendulum OCL2


    Jadi intinya, kompresor mempunyai karakter kompresi dan prinsip kerja masing-masing yang apabila digunakan secara tepat akan memudahkan anda dalam bekerja. Semoga artikel ini dapat membantu anda dalam berkarya. Stay productive and Viva la Resolucion! ryr

    Focal Menjawab Kebutuhan Portable Reference Monitoring dengan Spirit Professional Headphones

    Dalam era digital dan mobile seperti sekarang ini, sebuah headphones tentunya menjadi salah satu gadget yang harus dimiliki. Jadi tidaklah mengherankan apabila pabrikan Focal yang terkenal sebagai pembuat speaker high-end merambah pasar headphones yang mereka bagi dalam tiga kategori. Yakni mobile, Hi-Fi, dan professional headphones. Tentu bicara reference monitoring headphones yang akan diulas kali ini adalah Spirit Professional yang merupakan closed back, circumaural professional headphones.

    Diklaim sebagai headphones yang memiliki suara neutral dengan reproduksi bass frequency yang akurat serta acoustic insulation yang akan membantu ketika melakukan monitoring di tempat ber-noise level tinggi. Focal Spirit Professional juga memiliki konstruksi luar yang kokoh dengan desain anti getaran dan baret. Untuk transducer, Spirit Pro menggunakan material Mylar-Titanium yang ringan, kokoh, serta memiliki high-damping. Sangat membantu untuk menjaga dinamika dari audio signal sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih neutral dan tanpa distorsi

    Selain itu, kenyamanan juga menjadi faktor utama dalam desain headphones ini. Dengan menggunakan memory-foam berukuran besar, pengguna akan makin dimanjakan karena ear cushion didesain untuk memenuhi bagian kuping dan mengurangi tekanan yang akan dirasakan pengguna. Secara keseluruhan, Focal Spirit Professional dapat menjadi patokan anda dalam memilih reference headphones dikarenakan reproduksi frekuensi yang akurat, tonalitas yang seimbang, serta imaging yang sangat baik. Tidak lupa faktor kenyamanan dan kontruksi yang kokoh dari headphones ini. Selamat mencoba!

    @big_knob supports @disciplesrap #jesusrock Live

    Tanggal 25 April 2012 kemarin di Upper Room; Annex Building Jakarta digelar konser hip-hop rohani kristen pertama di Indonesia bertajuk “Jesus Rock” dari sebuah grup bernama Disciples. Disciples sendiri terdiri dari Igor Saykoji ( @saykoji ), Joshua J-Flow ( @jflowrighthere ), Guntur Simbolon ( @guntursimbolon ) dan Rendy Reinhard ( @RendyNgapz ) yang merupakan rapper dan penyanyi yang tidak asing lagi di industri musik Indonesia.

    the rehearsal

    Dalam konser ini Bigknob Audio merasa bangga bisa turut berpartisipasi dengan memberikan support berupa preamp BAE 1073 DMP untuk dipakai oleh Ronald Steven (@rsteven) sebagai bassist sekaligus Music Director dalam konser ini. Selain itu juga ada speaker monitor Focal CMS65 yang digunakan untuk monitoring recording oleh Kris Choi (@KristianChoi). Di konser ini juga @mokobigbro turut berpartisipasi sebagai FOH Mixing Engineer.

    @KristianChoi with #Focal CMS65



    #BAE DMP for @rsteven

    Semoga melalui konser “Jesus Rock” ini banyak orang-orang yang terberkati. Sukses untuk Disciples untuk album dan konser mereka dan semua pihak yang terlibat dalam konser ini!!

    @disciplesRAP #JesusRockLive