Stay Connected
Need Help? Call +62-21-8356113
Extended Warranty
Andreas Arianto: Memberikan Nilai Lebih Bagi Pendengar Musik Indonesia

Belum lama ini kami berkesempatan untuk bertemu dengan Andreas Arianto, seorang produser/arranger yang telah banyak bekerja sama dengan banyak artis di antaranya Mesty Ariotedjo, Ungu, dan Bonita. Berawal dari kecintaannya terhadap orchestra, Andreas pun mulai ‘mengulik’ komposisi lewat instrumen MIDI sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jurusan komposisi musik di Universitas Pelita Harapan. Hal ini tentu sangat menunjang karirnya sekarang sebagai produser/arranger dimana ia dapat menggubah aransemen secara langsung apabila diperlukan, mengarahkan musisi, hingga mengambil keputusan kreatif dalam produksi musik yang ia kerjakan.

Dalam memproduksi sebuah musik, produser yang pernah menjadi sessionist untuk Twilite Youth Orchestra ini memiliki pendekatan yang cukup menarik. Ia selalu menantang sang artis untuk mencoba keluar dari zona nyaman dalam bermusik tetapi tetap dalam lingkup yang familiar bagi si artis itu sendiri. Misalnya, dalam produksi album baru Ungu, ia membuat musik bergaya soul/funk yang cenderung ke era Motown 60-an. Andreas pun menjelaskan, “ yang mau dicapai dari ini adalah proses kolaborasi untuk menghadirkan sound baru walaupun tidak meninggalkan warna asli dari artisnya sendiri”

Ia pun menambahkan, “trend musik akan silih berganti, tapi kalau kita bikin musik yang jujur di hati dan bisa menghasilkan sound yang layak untuk jenis itu, sisanya tinggal marketing saja, yang penting musiknya sudah berbicara.” Dalam hal reference atau acuan, Andreas sangat menyukai produksi musik buatan Inggris karena ia merasa selalu ada ‘attitude’ atau ciri khas dari produksi Inggris walaupun jenis musiknya berbeda-beda. Sebut saja Jamiroquai, Adele, Amy Winehouse, bahkan Spice Girls yang ia rasa tetap memiliki karakter ‘Inggris’ walaupun artis tersebut memiliki jenis musik yang berbeda.

Maka dari itu, tidaklah heran apabila ia memiliki impian bagi praktisi musik dan audio Indonesia untuk suatu saat bisa menciptakan karakter suara atau komposisi musik berdasarkan daerah seperti ‘Jakarta Sound’, ‘Bali Sound’, dan daerah lainnya seperti yang terjadi di Amerika Serikat lewat ‘New York Sound’ atau ‘Los Angeles Sound’. Andreas pun berujar, “Kita jangan diperbudak oleh trend dan harus bisa mengakalinya karena itu akan memberi nilai lebih kepada pendengar musik dan musisinya sendiri”.